Kamis 31 Oktober 2019, 05:20 WIB

Menjaga Persatuan, Menjaga Modal Kemajuan

Fathur Rokhman Rektor Universitas Negeri Semarang | Opini
Menjaga Persatuan, Menjaga Modal Kemajuan

Dok.Mi/Seno
Opini

BANYAK lembaga internasional memprediksi RI akan meraih masa depan cemerlang. Keuntungan demografi akan terkonversi ke dalam keuntungan sosial, politik, dan ekonomi yang nyata. Namun, prediksi itu akan terwujud jika Indonesia dapat menjaga persatuan, kedamaian, dan kerukunan. Dalam posisi itulah milenial memiliki tanggung jawab sangat besar menjaga persatuan Indonesia.

Prediksi masa depan cemerlang RI antara lain disampaikan Pricewaterhouse Coopers pada 2017. Lembaga itu meramalkan, pada 2050 RI akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-4 di dunia. RI akan menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan bersama Tiongkok, India, dan AS. Kemajuan ekonomi RI cukup progresif menyalip negara-negara industri besar, seperti Jepang, Korea, Inggris, dan Jerman.

Lembaga global lain, Standard Chartered, bahkan membuat proyeksi jauh lebih optimistis. Pada 2019, lembaga itu meramalkan peringkat sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar keempat akan diraih Indonesia 2030. Proyeksi ini muncul karena total produk domestik bruota (PDB) Indonesia diramalkan mencapai lebih dari US$10,1 triliun.

Kedua prediksi itu masuk akal karena indikasi ke arah sana memang terasa. Salah satu kondisi yang memungkinkan ramalan terealisasi ialah bonus demografi yang akan segera dinikmati Indonesia. Bappenas (2017) memprediksi antara 2030-2040 jumlah penduduk Indonesia yang berusia 15-64 tahun mencapai 64%. Kondisi demografis ini merupakan ekosistem yang ideal karena membuat pendapatan per kapita naik secara signifikan.

Meski demikian, kemungkinan itu bisa saja gagal terjadi jika faktor yang memungkinkannya berubah mendadak. Sebagaimana dirumuskan futurolog Suhail Inayatullah (2004), masa depan mungkin dibentuk tiga faktor, yaitu beban masa lalu, dorongan masa kini, dan tarikan masa depan. Tugas kolektif bangsa Indonesia ialah memastikan tiga faktor itu terjaga sehingga ekosistem sosialnya memungkinkan terciptanya kondisi ideal.

Milenial, pemain kunci

Sejarah menunjukkan, kelompok usia muda memiliki peran strategis dalam menentukan arah kemajuan bangsa. 'Sejarah' pada konteks ini tidak merujuk peristiwa lampau, seperti Sumpah Pemuda 1928 atau Gerakan Reformasi 1998. Sejarah juga merujuk peristiwa aktual kekininan. Kondisi menunjukkan, wacana-wacana mayor dalam kehidupan berbangsa didominasi milenial.

Peran besar milenial dalam wacana kebangsaan didukung berbagai jenis modal sosial dan intelektual yang dimilikinya. Jika dibandingkan dengan generasi yang lebih tua, generasi muda saat ini jauh lebih kritis, terkoneksi, dan vokal mengartikulasikan gagasannya.

Tiga keunggulan itulah yang membuat wacana publik hari-hari ini sangat didominasi suara milenial. Dengan berbagai saluran baru yang dimilikinya, milenial berhasil membuat aspirasinya diperhitungkan.

Keunggulan kultural yang dimiliki milenial dalam produksi wacana terjadi karena generasi mereka memiliki empat modal khas yang relevan dengan realitas kultural zaman ini. Empat jenis keunggulan kultural itu ialah intelektual, sosial, finansial, dan simbolis. Empat jenis ini relevan dengan temuan Jamie Notter and Maddie Grant (2015) yang menyebut milenial memiliki empat karakter khas, yaitu digital, terbuka, lentur, dan cepat.

Secara intelektual milenial mulai menguasai saluran pengetahuan baru. Meskipun lembaga-lembaga formal masih didominasi generasi tua, milenial mampu mengapitalisasi media baru sebagai saluran pengetahuan alternatif. Akumulasi pengetahuan milenial dilakukan melalui Youtube, Twitter, Instagram, kelas-kelas alternatif, kursus singkat, dan ruang lain. Kondisi ini membuat para milenial bukan hanya dapat melampaui intelektualitas generasi sebelumnya. Namun, dalam batas tertentu mendisrupsinya. Kondisi itulah yang antara lain menimbulkan dampak samping berupa matinya kepakaran.

Secara sosial, keunggulan khas anak muda saat ini ialah kemampuannya senantias terhubung. Ciri ini menjadi penting karena memungkinkan mereka melakukan kerja kolaboratif yang menakjubkan. Berkat ciri ini milenial mampu menggalang kemampuan individual menjadi kerja kolektif yang berdampak besar.

Proyek kolaborasi, seperti Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak telah membuat milenial menjadi sentra gerakan ekonomi. Proyek sosial seperti Kitabisa.com bahkan mampu menciptakan model gerakan kedermawanan baru. Di luar itu, proyek-proyek kolaboratif khas milenial terus diciptakan.

Keunggulan ketiga yang dimiliki milenial ialah finansial. Secara kuantitatif, distribusi kekayaan memang masih dikuasai generasi tua. Namun, jika ditelaah lebih detail, kekayaan generasi tua bersumber dari sektor yang mengalami kejemuan, seperti pertambangan, properti, dan indutsri berbasis manufaktur. Dalam satu dekade ke depan, raksasa ekonomi nasional akan bergeser ke ekonomi kreatif yang fondasinya dikuasai milenial. Di kampus tempat saya mengajar, milenial berhasil menciptakan bisnis baru dengan potensi ekonomi mengejutkan.

Keunggulan keempat milenial ialah keunggulan simbolis. Secara sederhana, keunggulan simbolis ialah kemampuan seseorang men-delivered pesan kepada publik melalui berbagai instrumen simbolis yang memungkinkan. Dengan keunggulan ini, milenial dapat memperoleh kepercayaan lebih besar dari masyarakat.

Persatuan, syarat wajib

Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, milenial muda ialah pemilik masa depan yang sesungguhnya. Namun, perlu dicatat, kondisi ideal yang diidamkan dan diramalkan hanya bisa diwujudkan jika Indonesia dan dunia secara umum mampu menjaga kerukunan, persatuan, dan kedamaian. Tanpa hal-hal itu, potensi sosial dan budaya yang dimiliki milenial akan sia-sia, bahkan bisa berbalik menjadi bencana. Argumentasi itulah yang membuat tanggung jawab menjaga persatuan harus menjadi tanggung jawab kolektif, termasuk di kalangan milenial.

Ada berbagai potensi negatif yang hari ini patut menjadi perhatian luas karena mengancam terwujudnya masa depan ideal bangsa Indonesia. Selain konflik horizontal berbasis agama dan etnik, potensi benturan ideologi juga patut menjadi perhatian.

Semakin bebasnya distribusi informasi juga bisa menjadi pisau bermata dua. Liberalisasi informasi memungkinkan milenial semakin tercerahkan. Namun, pada saat yang sama juga rentan terjebak dalam berbagai bentuk konflik sosial.

Media sosial yang awalnya didesain sebagai perekat sosial ternyata banyak disalahgunakan untuk mendistribusikan disinformasi dan hoaks. Liberalisasi informasi membuat eskalasi konflik mudah sekali naik, terutama jika dikapitalisasi secara politis dan ekonomi.

Agar berbagai potensi konflik itu dapat diredam, ada berbagai tindakan antisipatif dapat diambil. Meningkatkan literasi digital dan kemanusiaan ialah salah satunya. Di beberapa perguruan tinggi, literasi digital dan kemanusiaan dimasukkan ke kurikulum.

Dengan pendekatan itu, milenial diharapkan memiliki kesadaran mengenai batas-batas pemanfaatan teknologi agar tidak berbalik arah menciptakan energi destruktif. Tentu masih banyak hal yang perlu dilakukan, tapi usaha meningkatkan literasi kemanusiaan ialah usaha yang layak dilakukan secara konsisten.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More