Rabu 30 Oktober 2019, 22:16 WIB

Tingkatkan Optimisme Asing, Indonesia Butuh Investor Besar

Faustinus Nua | Ekonomi
Tingkatkan Optimisme Asing, Indonesia Butuh Investor Besar

MI/Susanto
Rektor Terpilih Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, dan host Metro TV Andini Effendi.

 

UPAYA pemerintah untuk terus mendorong masuknya investor asing harus memprioritaskan investor besar untuk tingkatkan kepercayaan investor asing lainnya.

"Misalnya untuk investasi itu tidak perlu semua orang datang kesini, kalau ada bisa ambil dua atau tiga perusahaan besar masuk sini, yang lain akan ikut. Jadi ambil yang kepalanya," kata Menteri Keuangan periode 2013-2014 Chatib Basri dalam acara Ngobrol Pembangunan Indonesia (Ngopi) bertema Economic Outlook - Evaluasi 2019 dan Proyeksi 2020, di Jakarta (30/10).

Acara ini diselenggarakan oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)/PT SMI bersama Research Center Media Group (RCMG). Hadir juga sebagai pembicara dalam acara yang dipandu host Metro TV Andini Effendi tersebut, Rektor Terpilih Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro.

Dengan keterbatasan modal dan sumber daya manusia, pemerintah tidak harus mengerahkan semua sektor secara bersamaan. Ada prioritas pada sektor-sektor tertentu yang sesuai dengan kemampuan modal dan SDM. Kemudian hal itu dinilainya akan mampu menciptakan multiple effect yang dapat menggerakan sektor-sektor lainnya.

"Jadi sesuai dengan sumber daya yang kita punya, tenaga, uang dan lainnya. Kita ciptakan yang namanya beach head atau kalau tentara menyerang itu ada area yang sudah kita kuasai," imbuhnya.

Apabila prioritas yang dikembangkan itu berhasil, menurutnya, bisa mengubah persepsi asing terhadap perekonomian Indonesia. Alhasil, investor kecil pun akan berdatangan dan membajiri pasar modal Tanah Air.

"Pada 2012, kita lihat bagaimana cara Volkswagen, Chrysler ingin masuk. Maka yang harus kita kejar Toyota. Sekali Toyota masuk ke sini untuk ekspansi, yang lain akan bilang kalau Toyota berani, kita juga bisa," kisah Chatib.

Sementara untuk regulasi dalam negeri yang dinilai menghambat investasi, dia meminta pemerintah untuk segera membenahinya. Begitu pula dengan perizinan di daerah, pemerintah pusat perlu bekerja sama dan fokus pada daerah-daerah potensial. Dari daerah-daerah potensial tersebut kemudian bisa dijadikan contoh bagi daerah lainnya.

"Jadi buat sebagai trendsetter dengan membuat kisah sukses akan membuat optimisme. Tetapi kalau anda ingin menyelesaikan semua persoalan yang ada di Indonesia kalau tenaga dan uangnya cukup ya bagus, kalau tidak, enggak akan jalan," tuturnya.

Baca juga: Mendag Siap Benahi Urusan Ekspor dan Impor

Chatib menambahkan, perlambatan ekonomi saat ini tak seburuk krisis keuangan global pada 2008-2009. Kala itu, volume perdagangan dunia termasuk Amerika Serikat (AS) negatif. Sementara, Indonesia mampu tumbuh 4,6%.

"Sekarang, situasi tidak seburuk itu. AS jauh lebih baik. Walaupun resesi terjadi tapi tidak seburuk 2008. Logikanya sederhana. Mestinya gross bisa lebih tinggi dibandingkan 2008-2009. Kalau bicara 4,6%, di atas itu. Lima tahun terakhir, kita tumbuh 5%. Akan ada perlambatan, tapi tidak signifikan," kata Chatib.

Chatib optimistis arah perekonomian akan bangkit dengan fokus utama pada investasi dan peningkatan ekspor. Ia sepakat hal yang mesti dilakukan untuk jangka pendek, yakni menjaga stabilitas daya beli masyarakat.

"Kita harus tumbuh lebih cepat berkaitan dengan ekspor dan investasi. Jangka pendek harus jaga stabilitas, daya beli bisa diperbaiki dengan PKH (Program Keluarga Harapan) hingga cash for training, medium term harus meningkat terutama investasi ekpor dan perizinan," tuturnya.

Rektor Terpilih Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro menilai penguatan ekonomi nasional di tengah ancaman resesi global dapat dilakukan dengan menjaga stabilitas daya beli masyarakat Indonesia. Langkah ini dinilai paling cocok diterapkan untuk skema jangka pendek.

Menurut dia, idealnya pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 11-12%. Proyeksi pertumbuhan ekonomi RI yang melambat pada 2019 yaitu di angka 5%, dinilai masih wajar.

"Yang penting sebetulnya adalah daya beli. Jadi, dengan pertumbuhan ekonomi 5,3% hingga 5,5% asalkan inflasi bisa ditahan sekitar 3%, sudah cukup bagi Indonesia untuk menjadi negara kelas menengah," kata Ari.

Ari melanjutkan, mempertahankan stabilitas level pertumbuhan ekonomi nasional bukan hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Namun, Guru besar ilmu ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) itu optimistis kehadiran investasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia mulai bisa dirasakan pada akhir 2019 atau awal 2020.

"Sekarang masih pada level pemula, tapi kalau itu dipertahankan kita bisa menuju ke sana (level menengah). Negara lain pertumbuhan ekonominya lebih rendah daripada Indonesia dan hanya beberapa yang lebih tinggi," ucap pria yang juga Rektor Universitas Indonesia Terpilih itu.

Ari tak sependapat jika pertumbuhan dipaksakan hingga mencapai 5,8% karena akan mengorbankan keseimbangan ekonomi terutama nilai inflasi. Sebab, kebutuhan impor barang modal sektor industri manufaktur RI saat ini tercatat masih tinggi dan butuh waktu menuju perbaikan.

"Kita realistis saja, kita sudah berhasil meredam inflasi. Keseimbangan itu menjadi kunci Indonesia bisa menjadi negara berpendapatan menengah dan nanti akan menjadi negara maju," ujarnya. (X-15)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More