Rabu 30 Oktober 2019, 21:50 WIB

Memaknai Silaturahim NasDem-PKS

Gantyo Koespradono, Mantan Jurnalis, Pemerhati Sosial Politik | Opini
Memaknai Silaturahim NasDem-PKS

MI/Caksono
Gantyo Koespradono

DIANGGAP mengetahui soal perpolitikan, banyak teman yang mengirim pertanyaan ke saya bernada 'protes' mengapa Partai NasDem bersilaturahim ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Kesannya kok seperti bersahabat sekali. Ih, males. Lagi pula, ngapain Surya Paloh pakai sowan segala," tulis seorang ibu ke WA saya setelah menyaksikan tayangan berita soal itu di televisi.

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh didampingi pengurus partai itu, Rabu (30/10), bersilaturahim ke markas PKS di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Pertemuan itu mendapat sorotan dari banyak media, sebab tampaknya baru sekarang pasca-Pemilu 2019, ada partai yang berada di koalisi pemerintahan Jokowi (NasDem) beranjangsana ke partai yang selama ini dikesankan 'berada di seberang sana', bahkan dianggap musuh.

Baca juga: Sekutu dan Seteru di Demokrasi ala Indonesia

Dalam pertemuan itu, Partai NasDem dan PKS bahkan membuat nota kesepahaman yang berisi tiga butir yang garis besarnya adalah sebagai berikut:

1. Partai NasDem menghormati sikap dan pilihan politik PKS untuk berjuang membangun bangsa dan negara dari luar pemerintahan. PKS juga menghormati sikap dan pilihan politik NasDem yang berjuang di dalam pemerintahan. Perbedaan sikap politik kedua partai tersebut tidak menjadi penghalang bagi NasDem dan PKS untuk berjuang bersama-sama menjaga demokrasi agar tetap sehat dengan memperkuat fungsi checks and balances di DPR-RI.

2. Senantiasa menjaga kedaulatan NKRI dengan menjalankan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dengan baik dan benar, keluhuran akhlak, dan keteladanan para elite sebagai dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta tidak memberikan tempat kepada tindakan separatisme, komunisme, terorisme, radikalisme, intoleransi, dan lainnya yang bertentangan dengan empat konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

3. Menyadari takdir sosiologis dan historis bangsa Indonesia adalah warisan sejarah kerja sama para pendiri bangsa antara kelompok nasionalis yang memuliakan nilai-nilai agama dan kelompok Islam yang memegang teguh nilai-nilai kebangsaan.

Oleh karena itu, bagi generasi penerus dari dua komponen bangsa tersebut harus mampu menjaga warisan sejarah pendiri bangsa ini dengan saling menghormati, memahami, dan bekerja sama dalam rangka menjaga kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan partai atau golongan.

Sebelum naskah kesepahaman itu dibacakan seusai para petinggi kedua partai mengadakan pertemuan, banyak suara sumbang yang dialamatkan ke NasDem.

Ada yang menuding Partai NasDem oportunis dan berdiri di dua kaki. Kaki kanan berada di pemerintahan Jokowi dan kaki kiri berada di pihak oposisi, meskipun sistem ketatanegaraan kita tidak mengenal istilah oposisi.

Kita tidak bisa memungkiri, pasca-Pemilu 2019, opini publik memang mengarah ke sana. Partai-partai yang tidak mendapat tempat di pemerintahan dikategorikan sebagai oposisi, bahkan diposisikan sebagai musuh yang pantas untuk dimarginalkan, terutama PKS.

Fakta tidak bisa pula dimungkiri, PKS-lah yang selama ini dikesankan sebagai partai antimainstream yang berusaha menarik simpati untuk mendapatkan suara dengan menyuarakan atau prokelompok Islam garis keras yang alergi terhadap ideologi Pancasila.

Saya yakin, Partai NasDem juga tahu stigma masyarakat kepada PKS seperti itu. Oleh sebab itulah dalam butir kedua kesepahaman, dipandang perlu bagi kedua partai.

Saya melihat NasDem datang ke PKS dan mengeluarkan nota kesepahaman tersebut karena partai ini tidak ingin PKS terjerumus lebih jauh dan menjadi virus berbahaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam sistem ketatanegaraan, PKS adalah partai yang sah, apapun tingkah polahnya tetap harus diperhitungkan.

Meskipun banyak yang berharap PKS tamat riwayatnya, dalam pemilu tempo hari, perolehan suara partai ini malah meningkat dan mendapatkan 50 kursi di DPR dari sebelumnya 40 kursi. Ia berada di barisan partai papan tengah bersama Partai Demokrat (54 kursi) dan PAN (44 kursi).

Sampai sedemikian jauh tiga partai papan tengah itu belum pernah bertemu untuk menentukan sikap akan berposisi sebagai apa ketika sejumlah partai telah menentukan sikap berada di belakang pemerintahan Jokowi untuk membangun negeri lebih maju.

Kalau melihat komposisi perolehan kursi, seharusnya Partai Demokrat yang berinisiatif menggalang kekuatan baru sebagai penyeimbang pemerintahan Jokowi.

Namun, sampai saat ini, Partai Demokrat tampaknya lebih banyak diam dan merasa lebih aman jika bersikap menunggu bola muntahan.

Situasi kebatinan seperti itu dimanfaatkan Partai NasDem untuk proaktif merangkul PKS yang mungkin selama ini dianggap 'musuh bersama'.

Partai NasDem berpandangan, lagi-lagi ini menurut saya, pemilu telah selesai. Buat apa berlama-lama 'berseteru' jika di depan mata begitu banyak permasalahan bangsa yang harus segera diatasi dan dibenahi.

Boleh jadi karena menganggap partai-partai lain pendukung pemerintahan Jokowi tidak berani mengambil sikap, Partai NasDem proaktif merangkul PKS meskipun keduanya seperti diungkapkan Surya Paloh dan Presiden PKS Sohibul Iman berseberangan.

Bagi masa depan bangsa, merangkul tentunya jauh lebih baik daripada bermusuhan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More