Rabu 30 Oktober 2019, 17:48 WIB

Longsor dan Banjir Bandang Intai Bandung Barat

Depi Gunawan | Nusantara
Longsor dan Banjir Bandang Intai Bandung Barat

MI/DEPI GUNAWAN
Pengendara sepeda motor menerobos banjir di depan Pasar Panorama Lembang, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu.

 

PUSAT Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan, wilayah Kabupaten Bandung Barat berpotensi terjadi gerakan tanah pada musim hujan yang diprakirakan mulai terjadi pada awal November mendatang.

Berdasarkan data PVMBG Badan Geologi, seluruh wilayah atau sebanyak 16 kecamatan di Bandung Barat masuk potensi menengah dan potensi menengah-tinggi gerakan tanah. Bahkan beberapa kecamatan seperti Lembang, Parongpong dan Cisarua juga berpotensi terjadi banjir bandang.

Wilayah yang mempunyai potensi menengah, pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal. Hal itu terjadi terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

Untuk mengantisipasi kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengaku telah melakukan pemetaan wilayah dan mewaspadai banjir bandang saat memasuki musim hujan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bandung Barat, Dicky Maulana mengatakan, berkaca pada musim hujan tahun lalu, sejumlah wilayah kerap diterjang banjir bandang seperti Lembang dan Cisarua.

"Sementara di wilayah selatan, banjir bandang biasa terjadi di Cipongkor dan Gununghalu. Banjir biasanya terjadi hanya sesaat ketika turun hujan besar saja," ungkap Dicky, Rabu (30/10).

Baca juga: BPBD Karawang Pasang EWS Pantau Banjir

Dia menerangkan, banjir bandang biasanya terjadi akibat saluran air atau drainase yang tersumbat sampah, ditambah dengan longsoran kecil yang menyebabkan adanya air bercampur lumpur.

"Air lalu meluap ke bahu jalan karena tidak tertampung di saluran drainase. Untuk penanganannya, kami turun ke lapangan untuk mencari penyebabnya, lalu berkoordinasi dengan DLH untuk sampah dan PUPR untuk masalah drainase," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga harus mengevakuasi warga ketika terjadi banjir bandang agar bencana tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupaun luka.

"Tahun lalu terjadi banjir bandang di depan Sekolah Pendidikan Negara (SPN) Cisarua. Selain melakukan penanganan banjirnya, di sana kami juga melakukan evakuasi kepada warga," terangnya. (A-4)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More