Rabu 30 Oktober 2019, 17:32 WIB

Lima Produk Indonesia Kembali Raih Fasilitas GSP dari AS

Andhika prasetyo | Ekonomi
Lima Produk Indonesia Kembali Raih Fasilitas GSP dari AS

Mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kedua kanan) bersama Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo (kedua kiri)
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Iman Pambagyo

 

LIMA produk ekspor Indonesia kembali memperoleh fasilitas sistem tarif preferensial umum (Generalized System of Preference/GSP) dari Amerika Serikat . Informasi tersebut disampaikan secara resmi di laman resmi United States Trade Representative (USTR).

Kelima produk yang dimaksud adalah plywood bambu laminasi, plywood kayu tipis kurang dari 66 mm, bawang bombai kering, barang rotan khusus untuk kerajinan tangan serta kelompok sirup gula, madu buatan, dan karamel.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Intenasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengungkapkan hasil positif itu bisa dicapai atas kerja keras yang terus dilakukan.

 

Baca juga: Menteri BUMN Kantongi Nama Dirut Mandiri

 

Pemerintah rajin menyampaikan submisi tertulis. Atase Perdagangan di AS sebagai perwakilan pemerintah RI juga selalu hadir dalam dengar pendapat di Washington DC guna memberikan pembelaan bagi produk-produk Indonesia yang dinilai AS untuk kembali mendapatkan GSP.

Iman berharap, pemberian kembali fasilitas GSP dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para pelaku usaha di Tanah Air.

Pasalnya, dari 3.572 produk yang diberi fasilitas GSP, baru 836 yang sudah dimanfaatkan.

"Pelaku usaha harus benar-benar memanfaatkan fasilitas yang diberikan karena tidak semua negara mendapat hal serupa. Akses pasar sudah terbuka lebar," ujar Iman melalui keterangan resmi, Rabu (30/10).

Sedianya, AS melakukan penilaian terhadap enam produk asal Indonesia. Satu produk yakni asam stearat tidak diloloskan untuk kembali mendapat fasilitas GSP.

"Keputusan itubdiambil karena nilai ekspor asam stearat telah melebihi batas ketentuan kompetitif (competitive needs limitations/CNL). Artinya, produk asam stereat dinilai sudah sangat berdaya saing dan memiliki pangsa pasar yang sangat baik di pasar AS sehingga tidak perlu lagi mendapatkan perlakuan khusus," jelas Iman.

Pada 2018, produk ekspor utama Indonesia yang diekspor ke AS dengan menggunakan skema GSP adalah ban mobil dengan nilai US$138 juta, kalung emas US$126,6 juta, asam lemak US$102,3 juta, tas tangan dari kulit US$4,8 juta dan aksesori perhiasan US$69 juta. (OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More