Rabu 30 Oktober 2019, 11:20 WIB

Jumlah Penderita Gangguan Jiwa di Batam Meningkat

Hendri Kremer | Nusantara
Jumlah Penderita Gangguan Jiwa di Batam Meningkat

Antara
Jumlah penderita gangguan jiwa di Kota Batam meningkat dari tahun sebelumnya.

 

SEKITAR 512 orang di Batam menderita gangguan jiwa. Data dari Dinas Kesehatan Kota Batam 2019 ini menunjukkan jumlah orang mengalami gangguan jiwa mengalami peningkatan. Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Batam, Didi Kusmarjadi mengatakan, saat ini Batam belum memiliki rumah sakit jiwa, bahkan di Provinsi Kepri juga belum ada.

Saat ini terdapat kecenderungan peningkatan ODGJ berat.Bila ada orang dengan kelainan jiwa yang sangat butuh rujukan khusus, maka akan dirujuk ke RSUD Tanjung Uban.

Kadinkes Batam Christiana Setyowati membenarkan bertambahnya kasus ODGJ berat ini. Dia mengatakan peningkatan ini disebutkan terbagi atas dua hal. Pertama adalah pengumpulan data yang telah mulai lebih bagus jika dibanding sebelumnya. Kedua, secara personal kejiwaan memang meningkatnya kasus-kasus ODGJ berat.

"Dibandingkan tahun lalu, jika melihat laporan memang lebih banyak tahun ini. Ada kecenderungan meningkat. Bisa dikatakan karena sistem pelaporan 2019 ini lebih bagus. Jadi lebih banyak yang terekam dan ter-update datanya. Bisa juga memang ada peningkatan secara personal kasus," kata Christiana, Rabu (30/10).

Sebetulnya, lanjut Christina, belum semua wilayah di Batam disisir. Menurutnya baru 50% dari sasaran sekitar 1.200 orang dengan gangguan jiwa.

"Karena mungkin saat ini masih ada yang belum terlaporkan semua," tambahnya.

Kasus-kasus orang dengan gangguan jiwa ini masih didominasi oleh penderita Skizofrenia dan psikosis. Kasus ini bisa meningkat dikarenakan pengaruh lingkungan masyarakat.

baca juga: Tim Gabungan Jalur Bisa Tertibkan Orang Dengan Gangguan Jiwa

Untuk pengobatan ODGJ sudah bisa dilakukan di puskesmas. Namun dokter umum yang bertugas di puskesmas harus dilatih untuk mendeteksi tahap awal gangguan jiwa.

"Sifatnya lebih pada pelayanan dasar kejiwaan. Dinkes akan bekerja sama dengan dokter spesialis kejiwaan jika butuh rujukan. Untuk pengobatan ini, pasien dengan gangguan jiwa harus berkonsultasi sebelumnya dengan dokter spesialis kejiwaan dan bisa melanjutkan pengobatan di puskesmas" tambahnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More