Rabu 30 Oktober 2019, 14:45 WIB

Indonesia Ekspor Pesawat Terbang ke Nepal

M Ilham Ramadhan Avisena | Internasional
Indonesia Ekspor Pesawat Terbang ke Nepal

ANTARA/Umarul Faruq
Pesawat udara CN 235-220

 

PESAWAT terbang CN235-220 buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) (Persero) diekspor ke Nepal sebagai realisasi kontrak bernomor MGO/Fixed Wing/073/74/65 yang disepakati pada Juni 2017 antara PT DI dengan Angkatan Darat Nepal.

Pembuatan pesawat yang diekspor itu dibiayai Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menggunakan skema National Interest Account (NIA) atau penugasan ekspor khusus (PEK).

Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly, dalam keterangan resmi yang diterima Rabu (30/10), mengungkapkan pemberian fasilitas NIA kepada PT DI merupakan realisasi atas Keputusan Menteri Keuangan (KMK) tentang penugasan khusus kepada LPEI untuk menyediakan pembiayaan ekspor pesawat udara.

Ia menuturkan kinerja ekspor industri nasional amat penting dalam peningkatan nilai neraca perdagangan. Oleh karenanya, diperlukan upaya peningkatan nilai ekspor baik dari volume dan pasar tujuan ekspor.

Baca juga: Prioritas 4+1 untuk Politik Luar Negeri RI

Hal itu, kata dia, dapat memberikan stimulus industri strategis Indonesia melakukan ekspor ke negara non-traditional sebagai bentuk peran pemerintah melalui LPEI.

"Keberhasilan PT DI dalam memenuhi pesanan Negara Nepal dapat meningkatkan minat bagi negara lain terhadap produk pesawat terbang buatan Indonesia. Ekspor pesawat udara ke Nepal memiliki nilai strategis bagi PT DI karena kepuasan pelanggan luar negeri menjadi salah satu syarat utama dalam evaluasi pada tender-tender internasional," ujar Shintya.

LPEI, lanjutnya, akan terus menjalankan mandat melakulan pembukaan pasar potensial agar pelaku ekspor dalam negeri dapat berpenetrasi dan meningkatkan kapabilitas eksportir untuk berkompetisi di pasar global.

Lebih jauh, Shintya mengungkapkan dukungan yang diberikan LPEI kepada PT DI juga memiliki nilai sosial ekonomi. Pasalnya dari pengerjaan satu unit pesawat terbang CN235-220 itu, lebih dqri 4.000 tenaga kerja mampu terserap.

"Proyek ini juga melibatkan industri penunjang terutama Usaha Kecil Menengah (UKM) di dalam negeri yang ikut memasok kebutuhan untuk pembangunan pesawat terbang tersebut," jelasnya.

Selain itu, dukungan yang diberikan kepada PT DI dinilai juga dapat mendongkrak nilai ekspor serta daya saing produk khususnya produk pesawat udara di pasar internasional.

"Ke depannya diharapkan dapat menjadi salah satu flag carrier Indonesia untuk penetrasi pasar ke kawasan Asia Selatan, serta meningkatkan nilai perdagangan bilateral Indonesia," tutup Shintya. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More