Selasa 29 Oktober 2019, 23:29 WIB

Presiden belum Bisa Mengikis Perpektif Jakarta Melihat Papua

Abdillah Muhammad Marzuqi | Politik dan Hukum
Presiden belum Bisa Mengikis Perpektif Jakarta Melihat Papua

Setpres
Presiden Joko Widodo Kabupaten Pegunungan Arfak, Provinsi Papua Barat

 

KOORDINATOR Komite Pemilih Indonesia (TePI Indonesia) Jeirry Sumampow memandang kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Papua kurang kuat untuk dikatakan sebagai tidak melihat Papua dari Jakarta.

"Seringnya Presiden berkunjung ke Papua, tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa perspektif pemerintah pusat tentang Papua sudah berubah. Atau sudah sesuai dengan cara orang Papua melihat persoalan di Papua," terang Jeirry (29/10).

Menurut Jeirry, banyaknya masalah yang muncul dan berlarut-larut di Papua menunjukkan bahwa pendekatan yang dipakai masih dengan kacamata Jakarta.

 

Baca juga: Pembangunan Infrastruktur dari Pinggir untuk Keadilan Sosial

 

Termasuk mengisolasi Papua dari komunitas internasional dan menutup akses bagi media asing untuk masuk ke Papua juga memperlihatkan kacamata Jakarta masih digunakan. Selain itu, menurutnya, pemberian stigma separatis secara mudah kepada kelompok bersenjata, penanganan yang represif terhadap masyarakat yang kritis dan dominannya pendekatan keamanan untuk menyelesaikan persoalan yang muncul merupakan cara penyelesaian dengan kacamata Jakarta.

Namun, Jeirry tidak menampik bahwa Papua mengalami banyak kemajuan, khususnya pembangunan fisik. Banyak sarana dan prasarana fisik dibangun pemerintah seperti akses ke daerah yang mulai dibuka. Menurutnya, hasil pembangunan itu adalah sebuah fakta yang harus diapresiasi dari Pemerintah Jokowi.

"Ini sesuatu yang baik dan positif bagi Papua. Rakyat Papua dan kita semua harus berterima kasih kepada Pemerintahan Jokowi. Hal yang tak pernah dipikirkan apalagi dilakukan oleh pemimpin-pemimpin bangsa kita sebelumnya," terus Jeirry.

Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua bisa dimaknai sebagai upaya pemerintah untuk memastikan kelancaran proses pembangunan di Papua. Menurut Jeirry kunjungan Presiden juga bisa dimaknai sebagai empati pemerintah terhadap rakyat Papua sekaligus untuk memotivasi rakyat Papua untuk semakin giat membangun daerah.

"Saya kira, itu semata mau memastikan proses pembangunan di Papua berjalan baik dan memastikan agar pembangunan bisa dipercepat. Disamping itu, kunjungan Presiden Jokowi juga bermakna empatis bagi rakyat Papua. Yaitu bahwa ada perhatian Pemerintah Pusat terhadp Papua. Itu juga bisa bermakna memotivasi rakyat Papua agar bisa bangkit membangun daerahnya," tegasnya.

Jeirry menyatakan hal itu tidak serta mengikis anggapan melihat Papua dengan kacamata Jakarta. Sebab yang dibutuhkan rakyat Papua bukan hanya soalan infrastruktur dan pembangunan fisik, mereka juga pembangunan manusia dan diperlakukan setara.

"Tentu pembangunan fisik adalah kebutuhan rakyat Papua, tapi belum cukup. Disamping itu ada dua hal lain yang penting di Papua, yaitu: pembangunan manusia Papua dan perlakukan yang setara," tegasnya.

Jerry menyarankan 3 hal agar stigma melihat Papua dari kacamata Jakarta berubah menjadi melihat Papua dari kacamata Papua. Pertama, pembangunan fisik untuk membuka akses ke dan dari daerah-daerah terpencil. Kedua, pembangunan manusia Papua agar berdaya dan mampu menjadi tuan di tanahnya sendiri. Ketiga, perlakuan yang setara agar tidak terus menerus mengalami diskriminasi dalam segala aspek kehidupan. (OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More