Rabu 30 Oktober 2019, 03:20 WIB

60 Menit Waktu Emas Obati Stroke

Indriyani Astuti | Humaniora
60 Menit Waktu Emas Obati Stroke

Kemenkes/WHO/Dok.MI/Seno
Hari Stroke Sedunia 2019

 

IWAN mengaku terkena stroke saat usianya 44 tahun. Serangan stroke terjadi ketika dirinya sedang tertidur di malam hari.

"Tiba-tiba tangan kanan saya tidak bisa digerakkan," ujarnya, jelang peringatan Hari Stroke Sedunia dalam acara temu media bertajuk Inisiatif Penanganan Stroke Inovatif melalui Stroke Ready Hospital di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Jakarta, Jumat (25/10).

Diakuinya, ia memang sudah lama mengidap penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi yang merupakan salah satu faktor risiko penyakit stroke.

Lain lagi dengan Suherni yang mengisahkan dirinya terserang stroke di usia 43 tahun. Peristiwa itu terjadi saat Suherni sedang bercengkerama dengan kerabatnya. Suherni mengaku tidak pernah mengecek kondisi kesehatan dan merasa baik-baik saja saat pertama kali terserang stroke.

Direktur Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) dr Mursyid Bustami SpS menyampaikan, serangan stroke pada seseorang dapat menyebabkan kecatatan hingga kematian apabila terlambat ditangani. Waktu, menjadi salah satu hal utama dalam penanganan pasien stroke.

Mursyid mengungkapkan, terdapat masa golden hour atau waktu emas selama 60 menit, saat pasien mengalami serangan stroke pertama hingga diberikan obat. "Rumah sakit perlu mempersiapkan saat pasien masuk rumah sakit kurang dari 60 menit. Makin cepat diberikan, makin baik bisa mengurangi kecatatan bahkan kematian," ucapnya.

Ia menjelaskan, stroke terjadi ketika aliran darah menuju otak tersumbat atau terputus sehingga sel-sel pada otak tidak mendapatkan oksigen atau nutrisi yang dibutuhkan. Akibatnya, terjadi kerusakan sel-sel otak yang menghambat kemampuan tubuh melakukan fungsinya.

"Untuk stroke yang diakibatkan oleh sumbatan, ada batasan waktu supaya sumbatan yang ada dihancurkan memakai obat. Waktunya 4,5 jam untuk diberikan obat. Kalau melebihi itu, tidak dianjurkan, karena risikonya lebih besar daripada manfaat yang didapatkan," terangnya

Sel atau jaringan yang rusak akibat stroke, imbuhnya, tidak bisa diperbaiki atau irreversible. Oleh karena itu, pasien yang terkena serangan stroke, khususnya stroke iskemik (sumbatan), harus segera di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.

Menurutnya, waktu 4,5 jam menjadi standar global. Namun, hasil paling optimal apabila pasien diberikan obat dalam waktu 60 menit. Dalam menangani pasien stroke dengan cepat, ada hal-hal yang harus dipenuhi, antara lain kesiapan rumah sakit.

Dimulai dari adanya dokter spesialis saraf, alat CT scan atau MRI untuk mendiagnosis stroke, dan obat-obataan seperti tissue plasminogen activator yang dianggap standar untuk penanganan stroke iskemik. Obat tersebut bekerja untuk membantu melarutkan gumpalan darah yang mengakibatkan sumbatan pada otak.

Tahun yang hilang

Mengutip data dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) pada 2009, sebut Mursyid, diketahui 65% pasien stroke mengalami kecacatan dari berbagai level, mulai tidak bisa berjalan, gangguan konsentrasi, hingga gangguan berbicara.

"Ada tahun hidup yang hilang atau hari tua yang tidak produktif apabila seseorang terkena stroke. Misalnya, angka harapan hidup di Indonesia lebih dari 70 tahun, ketika terkena stroke pada umur 60 tahun pasien harus hidup dengan penyakit," tuturnya.

Untuk mempersingkat tata laksana dan penanganan stroke, RSPON telah membuat algoritme yang mana pasien serangan stroke sudah harus ditangani kurang dari 60 menit. Di RSPON, kata Mursyid, waktu maksimal penanganan pasien stroke sejak datang ke unit gawat darurat hingga diberikan obat maksimal 27 menit.

Inovasi tersebut menuai penghargaan kategori gold (emas) dari World Stroke Organization (WSO) sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang dianggap siap menjadi sentra penanganan stroke. Penghargaan itu, kata dr Mursyid, diberikan di Manilla, Filipina, pada 5 Oktober 2019.

Kasubdit Pelayanan Medik dan Keperawatan Kementerian Kesehatan dr Nani H Widodo SpM mengatakan, belum banyak RS yang menerapkan standardisasi manajemen penanganan stroke di semua rumah sakit. Penyebabnya dari kurangnya tim yang terintegrasi, termasuk sistem layanan darurat medis.

Dengan meningkatnya beban penyakit stroke di Indonesia, pihaknya telah membuat Panduan Nasional Praktik Klinis yang menjadi pedoman bagi para dokter dan tenaga kesehatan melakukan tata laksana stroke, mulai kejadian primer, gawat darurat, sampai rehabilitasi pasien.

Angels Initiative ialah tim konsultan yang memberikan pelatihan bagi petugas medis untuk meningkatkan kualitas proses penanganan stroke. Temmy Winata, perwakilan Angels Initiative menyampaikan, dari 120 RS yang ditanganinya, baru 37 RS di Indonesia yang memiliki kualifikasi sebagai RS yang siap menangani pasien stroke.

"Indonesia masih membutuhkan 435 rumah sakit untuk dapat melayani sekitar 269 juta penduduk," katanya. (Ant/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More