Selasa 29 Oktober 2019, 21:45 WIB

Tangkal Radikalisme, Makna Sumpah Pemuda Harus Digaungkan Kembali

Antara | Humaniora
Tangkal Radikalisme, Makna Sumpah Pemuda Harus Digaungkan Kembali

MI/Rommy P
Pakar komunikasi Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing.

 

PAKAR komunikasi politik, Emrus Sihombing, mengatakan, makna Sumpah Pemuda harus digaungkan kembali agar kesadaran sebagai satu bangsa tetap terjaga sekaligus mewaspadai gangguan yang bisa memecah persatuan.

"Makna Sumpah Pemuda itu sangat efektif untuk melawan berbagai gangguan yang ingin memecah belah bangsa kita," ujar Emrus di Jakarta, Selasa (29/10).

Ia mengungkapkan, saat ini ada sekelompok masyarakat pengikut radikalisme yang ingin mempertajam perbedaan yang ada dalam tubuh bangsa Indonesia. Mereka menganggap diri paling benar, paling suci, bahkan tak segan menghakimi orang lain yang tidak seiman dengan dia.

"Saya menganggap perilaku radikalisme ini tidak tempatnya di Indonesia. Apalagi negara kita berdiri dengan merujuk pada Sumpah Pemuda,
Pancasila, UUD 45, dan konstitusi kita yang lain," kata dia.

Menurut dia, hal itu pula yang mendasari Presiden Joko Widodo beberapa kali menekankan masalah pemberantasan radikalisme ini kepada para menterinya. Artinya, radikalisme itu masalah yang sangat serius yang menjadi ancaman keutuhan bangsa.

Ia mengusulkan agar Sumpah Pemuda selalu digaungkan di setiap kegiatan seperti lagu Indonesia Raya. Menurut dia, dengan membaca langsung Sumpah Pemuda, setiap warga negara akan lebih menghayati maknanya.


Baca juga: Jambore Pemuda Indonesia (PJI) 2019 Harus Jadi Solusi Kebangsaan


"Dengan diucapkan dan dihayati, pasti isi Sumpah Pemuda itu akan melekat dan meresap dalam diri kita masing-masing. Dari situlah akan terpatri rasa persatuan kita sebangsa dan se-Tanah Air," ujarnya.

Ia menyarankan kepada pemerintah agar sosialisasi dan dialog kebangsaan terus diberikan kepada masyarakat dari desa sampai tingkat nasional.

"Pembangunan suatu negara harus dimulai dari masyarakat kecil, yaitu desa. Kita harus jemput bola untuk memperkuat kebangsaan dan nasionalisme. Apalagi gangguan intoleransi, radikalisme, dan terorisme sangat nyata di depan kita," kata dia.

Ia tidak sependapat dengan beberapa pihak yang mengatakan radikalisme itu dari satu kelompok kepercayaan tertentu. Menurut dia,
radikalisme juga bisa berasal dari kelompok kepercayaan yang lain.   

"Mari kita perkuat jiwa kebangsaan dan nasionalisme. Kita harus mengikis habis radikalisme dari Indonesia," katanya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More