Selasa 29 Oktober 2019, 19:42 WIB

Trotoar Paseban, Belum Kelar sudah Ambyar

Tri Subarkah | Megapolitan
Trotoar Paseban, Belum Kelar sudah Ambyar

MI/Tri Subarkah
Kondisi trotoar di depan Pasar Paseban, Senen, Jakarta Pusat, hari ini.

 


LANGKAH Sofyan Purba, 24, tampak tertatih saat berjalan di atas trotoar depan Pasar Paseban, Senen Jakarta Pusat. Bagaimana tidak? Di saat matahari sedang terik-teriknya, ia harus memikul dua buah kardus dagangannya. Hal itu diperparah dengan kondisi trotoar yang belum kelar benar.

Saat Media Indonesia menyambangi lokasi tersebut, lembaran tulangan besi kotak-kotak terlihat masih tergeletak di atasnya, menandakan trotoar masih dalam perbaikan. Dan hal tersebut tidak menghentikan pesepeda motor untuk memarkirkan kendaraannya di sana.

Ambyar. Mungkin itu satu kata yang mampu mendeskripsikan keadaan trotoar di depan Pasar Paseban. Sofyan sendirimengaku hanya mampu berpasrah dengan keadaan tersebut. "Ya mau diapain lagi, urusan pemerintah lah. Saya harapannya semoga trotoar ini cepet jadi," katanya kepada Media Indonesia, Selasa (29/10).

Baca juga: Dishub DKI: Pelebaran Trotoar untuk Atasi Kemacetan

Sofyan juga berharap ketika pembangunan trotoar sudah selesai, pihak pengelola parkir Pasar Paseban bisa menertibkan motor-motor yang mejeng di atas trotoar. "Ini masalah parkir perlu ditertibin aja sih, besok kalau sudah jadi mudah-mudahan nggak gini lagi," lanjutnya.

Seorang juru parkir Pasar Paseban yang enggan disebutkan namanya mengaku tak punya pilihan lagi untuk mengantisipasi puluhan motor tersebut.

"Kalau di depan ini karena (trotoarnya) belum jadi kita pakai dulu, tapi setelah jadi sih nggak bisa. Karena trotoar kan emang nggak bisa buat parkir," aku pria berseragam biru itu.

"Ini inisiatif anggota (juru parkir) aja, hitungannya kan kalau siang nggak ada pengerjaan (proyek trotoar), jadi kita maksimalkan aja (kesemptannya)," lanjutnya.

Ia juga tidak membedakan tarif parkir antara yang berada di dalam pasar, maupun yang di atas trotoar. Tarif parkir, katanya bersifat progresif. "Jadi jam pertama dua ribu, berikutnya empat ribu, sampai maksimalnya lim ribu kalau sampe sore. Itu tertera dengan karics, ditulis manual," paparnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo enggan berkomentar banyak. "Nanti saya koordinasikan dengan Pol PP (Polisi Pamong Praja)," katanya saat ditemui di Kantor DPRD DKI Jakarta.

Sementara itu, Kasatwil Pol PP Kecamatan Senen Sunaryo yang kebetulan sedang melakukan patroli di wilayah itu mengatakan bahwa pihaknya tidak menolerir motor-motor yang parkir di atas trotoar.

"Oh nggak ada. Sebetulnya dulu mulai dari parkirnya, pedagangnya kita angkut terus. Nggak ada toleransi, nggak ada yang ngasih kebijakan. Trotoar harus clear," katanya.

Sayangnya, kewenangan yang dimiliki Pol PP tidak banyak. Sunaryo mengatakan dalam melakukan penindakan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Dishub. Kedua pihak bergandengtangan dalam melakukan sosialsiasi, menegur, maupun mengimbau siapapun yang mengokupasi trotoar, termasuk parkir liar.

"Yang pasti nanti kita akan kerja sama dengan Dishub. Kita akan lakukan OCP (operasi cabut pentil), dan angkut jaring. Itu rutin kita lakukan dengan Dishub, untuk tindak lanjut supaya pedestrian yang sudah rapih biar bisa lebih bagus lagi," akunya.

Sofyan tidak sendiri. Masih banyak orang lain yang langkahnya tertatih di atas trotoar depan Pasar Paseban. Mereka juga tidak punya banyak pilihan. Antara terus berjalan di atas trotoar yang ambyar, atau di bahu jalan--sambil pasang badan menghadapi motor-motor ganas ibu kota. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More