Selasa 29 Oktober 2019, 18:01 WIB

Latte Factor Bikin Generasi Milenial Sulit Berinvestasi

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Latte Factor Bikin Generasi Milenial Sulit Berinvestasi

MI/FERDIAN ANANDA MAJNI
Ilustrasi: Generasi milenial harus mewaspadai latte factor.

 

LATTE factor saat ini lebih banyak menjangkiti kaum milenial. Generasi tersebut sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi yang diikuti dengan semakin mudahnya berbagai akses kebutuhan hidup melalui gawai.

Contoh latte factor ialah menyeruput kopi kekinian yang bermunculan di berbagai tempat, pesan makanan tinggal klik via aplikasi lalu diantar walaupun jauh dari rumah maupun kantor, pesan transportasi online untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Baca juga: Fintech Bakal Mobilisasi Dana Masyarakat

Hal itu menjadikan generasi milenial lebih gampang mengeluarkan uang hanya untuk eksistensi di media sosial, ikut-ikutan tren atau memuaskan nafsu belanja yang disesali kemudian.

Latte factor mengacu pada pengeluaran kecil tidak penting yang bisa ditiadakan namun rutin dilakukan sehari-hari. Istilah itu diperkenalkan oleh David Bach, salah seorang pakar keuangan yang terkenal dengan rangkaian seri bukunya.  

Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia menjelaskan, latte factor bisa muncul dengan mudah hanya karena kebiasaan, tekanan sosial, hingga kontrol diri yang lemah.

"Tanpa disadari latte factor menggerogoti penghasilan hingga sulit untuk menabung apalagi berinvestasi,” ujar Gani dalam keterangan pers yang diterima Media Indonesia, Selasa (29/10).

Melihat hal tersebut, Grant Thornton Indonesia menyarankan generasi milenial untuk temukan apa saja latte factor. Hal itu dapat dimulai dengan mencatat pengeluaran harian sejak beraktivitas dan telusuri apa saja pengeluaran yang tidak penting.

Setelah itu, lakukan efisiensi dan mulai fokus pada kebutuhan pokok untuk membentuk kondisi finansial yang lebih stabil.

"Apabila pengeluaran untuk latte factor ini bisa dikontrol dan diminimalisasi, tentu ada potensi dana yang bisa ditabung untuk down payment properti impian atau diinvestasikan di instrumen lainnya," ujar dia. (*/A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More