Selasa 29 Oktober 2019, 16:17 WIB

BPJS Kesehatan Seharusnya Menanggung Terapi Trastuzumab

Siswantini Suryandari | Humaniora
BPJS Kesehatan Seharusnya Menanggung Terapi Trastuzumab

MI/Siswantini Suryandari
Peluncuran buku Beda Cerita 1 Suara: Kisah Kanker Payudara Her-2 Positif di Perpustakaan Nasional RI Jakarta, Selasa (29/10).

 

WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendesak BPJS Kesehatan untuk memperhatikan nasib pasien kanker Her-2 positif yang harus berobat dengan terapi trastuzumab. Sebab sejak 2018, terapi itu sudah tidak ditanggung BPJS Kesehatan.

"Ini yang harus kita dorong. Saya pun sudah berkonsultasi dengan anggota DPR RI dari Partai NasDem agar pasien kanker payudara Her 2-positif bisa mendapatkan kembali terapi trastuzumab," kata Rerie Moerdijat saat menghadiri peluncuran buku Beda Cerita 1 Suara: Kisah Kanker Payudara Her-2 Positif,di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Selasa (29/10).

Selama ini BPJS Kesehatan hanya memberikan terapi trastuzumab pada pasien kanker payudara Her-2 Positif bila terindikasi adanya penyebaran.

"Ini yang harus kita dorong supaya pemberian terapi ini bukan saat terjadi penyebaran. Sebelum terjadi penyebaran bisa dicegah. Terapi ini bisa berjalan maksimal untuk mencegah penyebaran. Pengobatannya juga tuntas," tambah Rerie yang juga penyintas Her-2 Positif ini.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah penderita kanker payudara sebesar 42,1 per 100 ribu penduduk, dengan rata-rata kematian 17 per 100 ribu penduduk. Sedangkan  persentase penderita kanker payudara Her-2 Positif sekitar 20%.

"Sel kanker ini sifatnya agresif sehingga bisa berpotensi muncul lagi. Maka terapi trastuzumab untuk mencegah penyebaran. Untuk itu saya juga mendorong pemerintah bisa memberikan perhatian kepada pasien kanker payudara Her-2 Positif untuk masyarakat kelas menengah ke bawah," tambahnya.

Ia menyebutkan saat bertemu dengan komunitas penyintas kanker Her-2 Positif di Semarang, Jawa Tengah juga ditemukan kasus-kasus serupa. Saat terapi dihentikan, pasien tidak melanjutkan terapi karena tidak mampu membeli obat terapi tersebut. Saat ini harga obat terapi trastuzumab berkisar Rp25 juta-Rp28 juta.

Dalam peluncuran buku hadir pula dr Medianti Ellya Permatasari, asisten Deputi Direksi Bidang Pembiayaan Manfaat Kesehatan BPJS Kesehatan, dr Denny Handoyo spesialis radioterapi onkologi dari MRCCC Siloam, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia, Linda Agum Gumelar dan Ketua Indonesian Cancer Information and Support Center (CISC), Aryanthi Baramuli.

Aryanthi mendukung perjuangan Rerie Moerdijat yang akan menyampaikan masalah yang dihadapi pasien kanker payudara Her-2 Positif ke Komisi 9 DPR RI.

"Kami ingin pemerintah memperhatikan pengobatan pasien kanker payudara Her-2 Positif yang menggunakan BPJS Kesehatan. Sejak 2018, terapi trastuzumab sudah tidak dicover oleh BPJS Kesehatan. Sementara harga obatnya cukup mahal.

Hal serupa juga dikatakan oleh dr. Denny Handoyo, spesialis radioterapi dan onklogi dari MRCCC Siloam. Menurutnya bila seseorang sudah terdeteksi kanker maka harus langsung diobati agar bisa mencegah atau menghentikan penyebaran.

"Bukan menunggu penyakit lebih parah baru diobati," kata Denny.

baca juga: Menteri LHK Ajak Siswa Global Mandiri Tanam 25 Pohon

Bahkan sedini mungkin dilakukan deteksi dini kanker agar mencegah stadium lanjut. Menanggapi hal itu, dr Medianti Ellya Permatasari, asisten Deputi Direksi Bidang Pembiayaan Manfaat Kesehatan BPJS Kesehatan mengatakan bahwa pihaknya masih akan mempertimbangkan lagi.

"Kami akan membahasnya nanti," tukasnya. (*/OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More