Selasa 29 Oktober 2019, 13:04 WIB

Carrie Lam Peringatkan Hong Kong di Ambang Resesi

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Carrie Lam Peringatkan Hong Kong di Ambang Resesi

AFP/Anthony Wallace
Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, menggelar jumpa pers di Hong Kong, Selasa (29/10).

 

PEMIMPIN Hong Kong, Carrie Lam, mengatakan Hong Kong kemungkinan akan mencatat pertumbuhan negatif untuk tahun ini karena berbulan-bulan protes telah memukul ekonomi.

Kerusuhan telah mengganggu bisnis dan memberikan pukulan berat bagi sektor pariwisata dan ritel.

Peringatan itu datang menjelang hitungan produk domestik bruto (PDB) awal yang dijadwalkan pada Kamis (31/10) yang diprediksi akan menunjukkan Hong Kong memasuki resesi teknis.

Resesi adalah situasi dengan PD) menurun dua kali berturut-turut atau lebih, dalam satu tahun.

Apa yang terjadi pada ekonomi Hong Kong, secara teknis bisa disebut resesi. Pasalnya, PDB akan dua kali turun kuartal kedua dan ketiga karena pertumbuhan yang amat lemah sejak demo terjadi.

Dalam pengarahan di Hong Kong, Selasa (29/10), Lam mengatakan angka pertumbuhan kuartal ketiga cenderung menunjukkan terjadi resesi.

Untuk mengatasi perlambatan, dia mengatakan kota sejauh ini telah menyuntikkan lebih dari US$2,6 miliar untuk mendukung ekonomi termasuk sektor transportasi, pariwisata, dan ritel.

Lam mengatakan pemerintah akan memberikan lebih banyak tindakan bantuan, tanpa memberikan rincian spesifik.

Komentarnya mengikuti peringatan serupa dari Sekretaris Keuangan Hong Kong, Paul Chan, pada akhir pekan. Dia mengatakan akan sangat sulit untuk mencapai perkiraan pertumbuhan yang tercatat sebelum aksi protes.

"Pukulan terhadap ekonomi kita (dari protes) adalah komprehensif," kata Chan.

Demonstrasi pecah menyusul RUU ekstradisi yang diusulkan antara Hong Kong dan daratan Tiongkok, dan telah berkembang menjadi tuntutan untuk kebebasan yang lebih besar.

Hong Kong adalah bagian dari Beijing, tetapi warganya memiliki otonomi lebih banyak daripada di wilayah daratan.

Bentrokan antara polisi dan aktivis menjadi semakin ganas. Polisi menggunakan gas air mata dan pengunjuk rasa menyerbu parlemen.

Protes-protes itu telah menyebabkan penurunan tajam dalam kedatangan wisatawan, dengan jumlah pengunjung diperkirakan telah merosot 50% pada Oktober.

Hong Kong adalah salah satu kota yang paling banyak dikunjungi di dunia tahun lalu, dengan 30 juta wisatawan.

Sektor ritel juga sangat terpukul. Beberapa toko terpaksa mempersingkat jam operasional. Sementara itu, para pekerja melaporkan kekhawatiran akan keselamatan mereka dan juga untuk mulai bekerja.

Chan mengatakan pada Agustus penjualan ritel telah jatuh lebih dari 25%--penurunan bulanan terbesar dalam catatan. (BBC/Hym/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More