Selasa 29 Oktober 2019, 11:43 WIB

Sopir Truk 39 Mayat di Inggris Bagian Trafficking Internasional

Melalusa Susthira K | Internasional
Sopir Truk 39 Mayat di Inggris Bagian Trafficking Internasional

AFP/Stefan Rousseau
PM Inggris Boris Johnson (kedua dari kanan) meletakkan karangan bunga ungkapan duka atas ditemukan 39 mayat dalam truk pendingin.

 

PENGEMUDI truk berpendingin yang memuat puluhan mayat, Maurice Robinson, hadir di Pengadilan Chelmsford, Essex, Inggris untuk mendengarkan dakwaannya pada Senin (28/10) kemarin.

Robinson didakwa telah melakukan 39 pembunuhan, persekongkolan perdagangan manusia, serta persekongkolan imigrasi dan pencucian uang yang melanggar hukum. Jaksa menduga keras bahwa ia merupakan bagian dari jaringan internasional penyelundupan imigran atau human trafficking.

"Dia telah terlibat dalam lingkaran global yang memfasilitasi pergerakan sejumlah besar imigran ilegal ke Inggris," tukas jaksa penuntut Ogheneruona Iguyovwe.

Robinson tidak diminta untuk menyatakan eksepsi atau pembelaan, dan selanjutnya akan muncul di Pengadilan Tinggi Old Bailey di London, Inggris, pada 25 November mendatang

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson yang menulis ucapan dukacita dalam buku belasungkawa mengatakan bahwa dunia telah terkejut atas tragedi ini. Johnson dan Menteri Sekretaris Negara kemudian meletakkan bunga di taman kecil di luar kantor Dewan Thurrock, di Essex.

"Seluruh bangsa dan memang dunia telah dikejutkan oleh tragedi ini dan kekejaman yang diderita oleh orang-orang tak berdosa yang mengharapkan kehidupan yang lebih baik di negara ini," tulis Boris.

"Dalam mengutuk ketidak berperasaan orang-orang yang bertanggung jawab atas kejahatan ini, kami di pemerintah Inggris memutuskan untuk melakukan segala daya kami untuk membawa para pelaku ke pengadilan," kata PM Inggris dalam tulisannya.

Sementara itu, tiga orang lainnya yang ditangkap sehubungan dengan peristiwa kematian itu dibebaskan dengan jaminan pada Minggu (27/10). Detektif Polisi Essex kini tengah bekerja untuk mengidentifikasi korban kematian massal tersebut.

Awalnya, polisi mengatakan 31 pria dan 8 wanita itu adalah warga Tiongkok. Namun, sejumlah keluarga migran Vietnam banyak yang mengkhawatirkan anggota keluarganya yang hilang kontak termasuk di antara jumlah korban tewas tersebut. Kini, tes DNA sedang dilakukan di Vietnam untuk membantu mengidentifikasi para korban. (AFP/BBC/Guardian/Uca/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More