Selasa 29 Oktober 2019, 01:50 WIB

Nadiem Makarim di antara Dua Pondasi Pendidikan Kita

Yeremias Jena Etikawan dan Dosen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya | Opini
Nadiem Makarim di antara Dua Pondasi Pendidikan Kita

MI/RAMDANI
Nadiem Makarim Menteri di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) RI

KARENA tidak berlatarbelakang dunia pendidikan, sebagian orang meragukan kemampuan Nadiem Makarim dalam memimpin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) RI lima tahun ke depan. Asosiasi dirinya yang begitu kuat dengan Go-Jek membuat orang khawatir pendidikan difokuskan hanya pada aspek keterampilan.

Kekhawatiran ini tidak berlebihan. Suami Franka Franklin itu mengklaim (paling) tahu bisnis masa depan. Meskipun belum terlalu mengerti dunia pendidikan, dia orang yang belajar cepat sehingga merasa mampu menghubungkan luaran pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Apakah dengan begitu pendidikan kita direduksikan menjadi agen penyedia tenaga kerja? Lalu, apa bedanya dengan Balai Latihan Kerja? Apakah perbedaan antara sekolah-sekolah vokasional dan pendidikan universitas masih relevan?

Paradigma pendidikan yang berubah
Karena seratus hari pertama akan digunakan Nadiem untuk mendengar para ahli dan birokrat pendidikan, juga berbagai pemangku kepentingan, paradigma pendidikan seperti apa yang dibela masih sulit dipastikan.

Meski begitu, sebuah asumsi dapat dirumuskan berdasarkan kepingan pernyataan Mendikbud Nadiem di media massa. Sebagaimana karakter kaum milenial pada umumnya yang pragmatis, mendikbud seakan mengirim pesan bahwa pendidikan vokasional dan pendidikan universitas tidak perlu dipertajam pembedaannya. Dalam pendidikan kontemporer, keduanya harus berorientasi kerja.

Itulah sebenarnya preokupasi Mendikbud lima tahun ke depan. Dengan lulusan yang mencapai ratusan ribu setiap tahun, sekolah di era milenial dituntut memikirkan keterserapan tenaga kerja. Hal itu sejalan arahan Presiden Jokowi, bahwa setiap sektor dalam kementerian harus benar-benar memperhatikan pembukaan lapangan kerja.

Sebagai orang yang mengaku sangat mengerti masa depan, Nadiem pasti tahu bahwa keterserapan tenaga kerja tidak bisa dibebankan hanya pada institusi dan/atau perusahaan pencipta lapangan pekerjaan. Jika kreativitas dan bisnis kreatif menjadi sifat utama dunia milenial, kreativitas penciptaan lapangan pekerjaan dapat disebut sebagai kunci keberhasilan seseorang seusai sekolah. Artinya, setiap peserta didik harus dimampukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Di sinilah kita mengerti mengapa Nadiem menganggap ilmu dan keterampilan statistika itu penting selain bahasa Inggris, pengodean (coding), dan psikologi. Dirumuskan secara sederhana, apapun ilmu dan pendidikannya, peserta didik harus terampil membaca dan memanfaatkan data (statistik), membaca, mengurai, dan mengodekan program dalam teknologi informasi (coding), mampu memengaruhi orang (psikologi), serta kefasihan berbahasa Inggris sebagai syarat mutlak untuk kerja sama dan berkompetisi dalam dunia global. Itulah profil kelulusan kaum milenial ke depan.

Penampang lulusan seperti itu dibutuhkan sekarang dan ke depan. Kesalinghubungan yang menjadi salah satu watak kaum milenial memungkinkan mereka berjejaring sejak bangku sekolah. Hal inilah yang memampukan mereka bekerja bersama-sama, mencoba jenis pekerjaan baru, dan menciptakan peluang usaha bersama. Bahkan, dengan siapa pun di seluruh dunia. Sekat ruang dan waktu diterobos.
 
Karakter dan etika
Ini soal sintesis antara kemampuan akademik, keterampilan analitis, kefasihan berbahasa dan memengaruhi massa, serta kemelekan teknologi digital. Namun, tidak berhenti di situ saja. Karena itu, Mendikbud juga menekankan pentingnya pendidikan yang berkarakter atau berwatak.

Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa sebenarnya cita-cita penyelenggara sekolah, akademi, institut, dan perguruan tinggi di Indonesia ialah menghasilkan lulusan yang pintar, cerdas, dan berwatak. Hal itu sudah menjadi mimpi dan cita-cita awal sejak negara ini terbentuk: “mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”.

Jika karakter atau watak tidak bisa dipisahkan dari tujuan pendidikan Indonesia, karakter seperti apa yang hendak dihabituasi dalam diri peserta didik? Sebagian orang mungkin langsung berpikir tentang pendidikan agama, kuliah Pancasila dan kewarganegaraan, serta etika. Bahkan, ada juga perguruan tinggi yang menyelenggarakan kuliah formal pendidikan karakter.

Sementara itu, rekan-rekan guru di tingkat pendidikan dasar dan menengah berpikir tentang bagaimana memasukkan 18 karakter unggulan Kementerian Kendidikan dan Kebudayaan ke dalam pendidikan dan pengajaran di sekolah.

Apakah ini yang dimaksud dengan pendidikan berbasis karakter? Jika ya, nilai atau karakter siapa atau kelompok mana yang harus diakomodasi? Jika jawabannya merupakan nilai atau watak masyarakat Indonesia, seperti apakah nilai atau watak yang dimaksud? Bukankah dengan begitu kita akan jatuh ke dalam apa yang disebut tirani nilai moral ketika nilai-nilai moral dan karakter dirumuskan dari balik meja dan diinstruksikan secara sistemis untuk dilaksanakan?

Dibutuhkan diskusi serius dan kontinu untuk menanggapi pertanyaan- pertanyaan ‘liar’ semacam itu. Akan tetapi, untuk mengafirmasi pentingnya pembentukan watak dan etika dalam pendidikan di Indonesia, sifat kaum milenial dapat menjadi titik berangkat.

Keunikan generasi milenial terletak pada sifat khas mereka, seperti melek teknologi, keseimbangan antara kerja, keluarga dan perhatian pada kehidupan privat, dan berorientasi pada tim. Lalu, multitasker, kesalinghubungan, rasa ingin tahu yang tinggi, dsb. Menurut saya, pengembangan watak dan etika sebagai bagian dari penyelenggaraan pendidikan di Indonesia harus mengafirmasi watak-watak positif serta ‘menyelamatkan’ kaum milenial dari sifat-sifat negatif.

Saya menggarisbawahi empat watak penting sebagai intisari seluruh sifat kaum milenial sebagai landasan pembentukan kepribadian dalam pendidikan di Indonesia. Pertama, pendidikan karakter dan etika harus mempromosikan otonomi individu.

Kedua, pendidikan karakter dan etika hendaknya mendorong dan memperkuat tanggung jawab. Watak ini dapat menjadi semacam pelindung terhadap bahaya keinginantahuan yang tinggi dan sifat melek teknologi informasi versus privasi pihak lain.

Ketiga, pendidikan karakter dan etika diarahkan kepada pembentukan pribadi yang jujur. Watak ini mengafirmasi sifat transparansi dan otentisitas kaum milenial.

Keempat, sifat bela rasa nyaris tidak digaungkan dalam berbagai diskursus mengenai watak kaum milenial. Padahal, ini penting sebagai upaya memupuk kelembutan jiwa, semangat bersolider dengan kelompok yang lemah, dan kemampuan mengakomodasi kelompok yang kurang/tidak terampil, seperti kelompok difabel, kelompok rentan, dsb.

Sudah bisa dipastikan, Nadiem Makarim dan Kementerian Pendidikan tidak akan mampu mengubah Indonesia hanya dalam lima tahun. Namun, setidaknya langkah awal yang meyakinkan telah ditetapkan dan mulai dilaksanakan, bahwa pendidikan harus mampu menghasilkan generasi Indonesia yang berkualitas.

Generasi pintar, cerdas, dan berkarakter yang dihasilkan lewat proses pendidikan Indonesia itulah generasi yang berkualitas. Langkah itu sudah mulai kita tapaki bersama Nadiem segera setelah pelantikannya sebagai Mendikbud. Selamat bertualang, Mas Menteri!

 

 

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More