Senin 28 Oktober 2019, 15:32 WIB

Jumlah Sambungan Gas Rumah Tangga di Jawa Barat masih Kurang

Cikwan Suwandi | Nusantara
Jumlah Sambungan Gas Rumah Tangga di Jawa Barat masih Kurang

Antara
PT Pertagas akan meningkatkan jaringan pipa gas rumah tangga di Jawa Barat yang masih kurang.

 

PT Pertamina Gas (Pertagas) mendorong  peningkatan jumlah sambungan gas rumah tangga dan industri di Jawa Barat. Rampungnya proyek jaringan pipa gas Gresik-Semarang diyakini membantu proses penyaluran gas ke Jawa Barat di tengah defisitnya defisit produksi gas di Jawa Barat.

"Memang sangat kurang. Untuk Jawa Barat ini bagaimana pintar-pintar kita melakukan pengaturan penyuplaian kepada konsumen. Sementara permintaan banyak, tetapi produksi masih kurang. Tetapi sebentar lagi proyek saluran Gresik-Semarang akan rampung. Artinya bisa mensuplai untuk kebutuhan gas di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur," kata Direktur Teknik dan Operasional Pertagas, Rosa Permata Sari di Karawang, Senin (28/10).

Menurut Rosa, untuk wilayah Jawa Barat sendiri saat ini ada 33.200 sambungan rumah tangga. Dan khusus Karawang terdapat 6.952 sambungan rumah tangga di 2019 yang ditugaskan kepada PGN. Rosa mengatakan sambungan gas rumah tangga 4,7 juta menjadi target Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) nasional.

"Kami mendukung hal tersebut dan saat ini kami terus melakukan peningkatan jumlah saluran. Untuk 2019 saja 80 ribu saluran," katanya.

baca juga: Warna-warni Indonesia di Dharmasraya

Ia menegaskan untuk masyarakat yang menggunakan sambungan saluran gas rumah tangga akan jauh lebih murah dibandingkan mereka yang menggunakan tabung gas. Untuk harga bervariasi sebab setiap daerah berbeda. Tapi secara umum harganya Rp4.250/m3. Setiap 4m3 setara dengan 1 kilogram.

"Kalau dihitung dengan tabung 3 kilogram yang harganya Rp18.000 saat ini, harganya itu sekitar 6 ribu perkilogram. Tetapi kenyataanya gas 3 kilogram di pasaran ini mencapai Rp21.000 pertabung hingga Rp25.000 pertabung. Saya yakin ini jauh lebih murah," pungkasnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More