Senin 28 Oktober 2019, 15:50 WIB

Belajar Nyaman dari Introver

Fathurrozak | Weekend
Belajar Nyaman dari Introver

123rf
Kita bisa belajar dari introver untuk nyaman terhadap lingkungan dalam kesendirian.

BEBERAPA tahun terakhir kesepian dikaitkan dengan meningkatnya kematian dini, penyakit jantung, depresi, penyalahgunaan narkoba dan alkohol, dan bunuh diri. Sejumlah kampanye ati-kesepian diluncurkan di Inggris, Australia, dan Denmark. Diperkirakan setengah juta orang di Jepang hidup layaknya petapa zaman modern alias hikikomri - orang yang menutup diri di rumah mereka.

Kesepian menjadi fenomena yang yang kerap dikaitkan antara orang tua dan kesehatan mereka. Tapi berdasarkan survei perusahaan asuransi kesehatan Cigna, masyarakat yang paling kesepian di Amerika berasal dari golongan orang muda dewasa, khususnya Generasi Z.

Survei itu menemukan pengguna media sosial akut memiliki skor kesepian yang serupa dengan orang yang tidak pernah mengirim tweet atau menggungah Snapchat. Banyak yang mengaku merasa kesepian meski dikelilingi orang lain. Survei yang dilakukan University of California, San Francisco tahun 2012 pada 1.604 orang dewasa, menemukan 43% mengatakan mereka merasa kesepian, meskipun hanya 18% yang benar-benar hidup sendirian.

Kesendirian itu ternyata terkait dengan perasaan dibandingkan perilaku, seperti merokok atau tidak banyak bergerak. Itu sebabnya orang dapat mengatakan mereka merasa kesepian, meski memiliki teman dekat, keluarga, atau pasangan yang mendukung. Di sisi lain, orang yang dianggap introvert merasa nyaman sendirian dan jarang kesepian.

Para ahli mengatakan, kesepian dan dampak buruknya sebagian besar terkait dengan bagaimana seseorang menganggap kesendirian mereka.

"Sedangkan introver mengacu pada preferensi untuk tingkat keterlibatan sosial yang rendah, kesepian merujuk pada persepsi hubungan sosial seseorang tidak memadai, mengingat preferensi seseorang untuk keterlibatan sosial," tulis almarhum John Cacioppo, yang merupakan pelopor studi kesepian di University of Chicago, dalam suatu studi pada 2014 di jurnal Psychological Bulletin.

"Efek kesehatan mental dan fisik yang paling beracun (dari kesepian) ditemukan terkait dengan persepsi yang dirasakan. Kita harus berhati-hati untuk tidak membuat asumsi. Hanya karena seseorang hidup sendirian bukan berarti mereka kesepian. Ini sangat subjektif," kata Carla Perissinotto, associate professor of medicine di Division of Geriatrics di University of California, San Francisco.

Nyaman

Bila kesepian berisiko pada kesehatan, sebaliknya introver tidak berisiko kesehatan. Mereka memiliki cara untuk nyaman sendirian.

"Ada kesenangan yang bisa dilihat introver dalam mengamati dan membawa dunia ke dalam diri mereka. Itu adalah keterampilan yang dapat dikembangkan," ungkap Dr. Laurie Helgoe, penulis Introvert Power: Why Your Inner Life is Your Hidden Strength, yang juga merupakan associate professor Ilmu Perilaku di Ross University School of Medicine.

"Masyarakat Amerika adalah masyarakat yang ekstrover, introver belajar keterampilan sosial agar lebih terbuka, tetapi jarang ekstrover diajarkan keterampilan menyendiri," sambung Helgoe.

Belajar puas dengan diri sendiri perlu waktu dan keterampilan tersendiri. Kita, kata Helgoe, bisa belajar dari para introver. Dia menyarankan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang memperoleh inspirasi tanpa dikelilingi sekelompok kenalan. Ini mungkin termasuk membaca atau menghadiri pengalaman kelompok seperti ceramah, konser, acara olahraga, atau reli politik - sendirian.

“Pengalaman koneksi kelompok itu dapat melampaui hubungan individual apa pun,” kata Helgoe.

Endurance hiker Jennifer Pharr Davis, mengatakan ia merupakan bukti  menikmati waktu yang dihabiskan sendirian dapat dipelajari. Ketika dia menangani sendirian Appalachian Trail, dia mengatakan dia merasa 'canggung dan tersesat' pada awalnya.

“Semakin saya terbiasa, semakin saya sadari itu luar biasa. Itu adalah hadiah yang tidak terasa seperti saya perlu bereaksi atau merespons atau memproduksi - saya bisa saja. Dan saat itulah saya mulai belajar tentang siapa saya."

Pharr Davis terus mendaki sendirian karena dia menemukan keheningan yang memungkinkan dia untuk 'merasakan kedamaian sejati.' Penting untuk diingat bahwa setiap orang terkadang kesepian, termasuk introver.

Memecahkan fenomena kesepian akan berarti melihat lebih dalam pada alasan mengapa orang kesepian - apakah itu karena kehilangan, kurangnya akses ke komunitas, ketidaknyamanan mendasar dengan diri mereka sendiri, atau persepsi yang salah tentang bagaimana kehidupan "harus" terlihat karena pengaruh sosial media.

Tidak akan ada jawaban satu ukuran untuk semua, kata Perissinotto. "Salah satu tantangan adalah bahwa jika kita hanya mengambil pendekatan generalis dan tidak berpikir lebih jauh tentang bagaimana orang-orang kesepian, kita akan gagal dalam menyelesaikannya."

Dengan asumsi bahwa orang-orang yang lebih suka menyendiri itu kesepian, mengungkapkan bias budaya terhadap ekstrover yang tidak membantu. Jika introver dapat diterima sebagai keadaan alami - yang bahkan mungkin memberikan ketahanan - itu bisa mengarah pada pemahaman yang lebih jelas tentang siapa yang benar-benar mengalami kesepian, dan bagaimana cara melawannya. (M-3)

Baca juga : Menarik, Robot Ini Bisa Merawat Tanaman Anda

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More