Senin 28 Oktober 2019, 14:55 WIB

Empat Desa di Cianjur masih Dilanda Krisis Air

Benny Bastiandy | Nusantara
Empat Desa di Cianjur masih Dilanda Krisis Air

MI/Benny Bastiandy
Warga di empat desa di Cianjur mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang.

 

KEKERINGAN masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Seperti terjadi di Kecamatan Naringgul yang notabene berada di wilayah selatan. Warga di empat desa di wilayah tersebut hingga saat ini dilaporkan masih mengalami krisis air bersamaan kemarau panjang. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga mencari sumber-sumber air maupun membeli air bersih yang dijual keliling.

"Kemarau sekarang sudah berlangsung hampir enam bulan. Selama itu, warga mengalami kesulitan air bersih," kata Kepala Dusun Puncakwangi Desa Wangunjaya, Jejen kepada wartawan, Senin (28/10).

Di wilayah itu terdapat sumber air dari aliran Sungai Cisinduk. Namun karena hingga saat ini belum turun hujan, ditambah jadi andalan warga, debit air di lokasi tersebut mengering.

"Hampir setiap hari, pagi, siang, hingga malam, warga mengantre untuk mendapatkan air. Tidak banyak karena debit airnya juga sudah menyusut," terang Jejen.

Empat desa yang dilanda kekeringan berada di Desa Wangunjaya, Desa Malati, Desa Naringgul, dan Desa Margasari. Bagi warga yang mampu, jelas Jejen, mereka membeli air bersih seharga Rp70 ribu per torn (penampungan air) bsrkapasitas 1.000 liter.

"Kami berharap ada bantuan air bersih bagi masyarakat," tegasnya.

Herman, 50, tokoh masyarakat Desa Naringgul, menambahkan sumber air di wilayahnya berada di Kampung Garogol. Namun sekarang debit airnya terus menyusut menyusul terjadinya kemarau panjang.

"Sekarang airnya terus berkurang. Kami ingin ada bantuan pasokan air bersih," tandasnya.

Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno, mengatakan kondisi cuaca saat ini masih sulit diprediksi. Karena itu, Pemkab Cianjur masih memberlakukan status siaga darurat kekeringan hingga 31 Oktober 2019. Namun saat ini sudah mulai memasuki peralihan musim.

"Cuaca sekarang memang agak sulit diprediksi. Kalau melihat cuaca, sepertinya masih masuk masa kemarau. Tapi masih diselingi juga dengan hujan yang mendadak bisa terjadi secara ekstrem," terang Sugeng.

baca juga: Cegah Karhutla, Tiap Desa di OKI Dikawal Balakar

Sugeng mengingatkan masyarakat harus tetap mewaspadai potensi-potensi bencana. Terutama memasuki masa transisi peralihan musim kemarau ke hujan.

"Tetap waspada menghadapi kondisi cuaca sekarang," pungkasnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More