Senin 28 Oktober 2019, 10:33 WIB

Virus ASF Terdeteksi, Sarawak Larang Babi Kalengan dari Tiongkok

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Virus ASF Terdeteksi, Sarawak Larang Babi Kalengan dari Tiongkok

AFP/Nicolas Asfouri
Penjual daging babi sedang menjelaskan tentang jualannya kepada pembeli di Beijing, Tiongkok.

 

OTORITAS Negara Bagian Sarawak, Malaysia, telah memberlakukan larangan sementara terhadap produk-produk berbasis daging babi dan babi yang diimpor dari negara-negara yang terkena demam babi afrika (ASF), termasuk Tiongkok.

Departemen Layanan Hewan Sarawak (DVSS) dalam sebuah pernyataan mengatakan pihaknya telah melakukan tes pada 17 daging babi kalengan yang diimpor dari Tiongkok. Mereka menemukan virus demam babi afrika terdeteksi di salah satu sampel.

Virus DNA yang terdeteksi dikonfirmasi selama tes laboratorium menggunakan Real Time Polymerase Chain Reaction (q-PCR), yang dilakukan pada Jumat lalu.

"Sejauh ini, tidak ada infeksi demam babi afrika pada babi yang dilaporkan di negara bagian. Pendeteksian virus tidak mengubah status bebas ASF Sarawak," demikian dilaporkan New Straits Times, Sabtu (27/10).

"Negara Bagian Sarawak telah memberlakukan semua larangan impor produk daging babi dan babi dari negara yang terinfeksi ASF, termasuk produk daging babi kalengan dari Tiongkok sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata departemen itu dalam sebuah pernyataan.

DVSS dan agen-agen lainnya akan melakukan pengecekan terhadap semua supermarket dan produk-produk yang terpengaruh akan dikeluarkan dari rak.

Produk dalam proses pengiriman perlu menjalani mekanisme pengecekan untuk memastikan produk-produk tersebut bebas dari kontaminasi virus ASF," tambahnya.

Hingga saat ini, departemen telah menahan 20 kg produk hewani di semua titik masuk yang dibawa oleh para pelancong. (New Straits Times/Hym/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More