Senin 28 Oktober 2019, 00:28 WIB

Tradisi Kokor Gola Enau di Masyarakat Pedalaman Manggarai

John Lewar | Nusantara
Tradisi Kokor Gola Enau di Masyarakat Pedalaman Manggarai

MI/John Lewar
Tradisi Kokor Gola di Manggarai, NTT

 

GULA bagi warga Manggarai sudah tidak asing karena penduduk setempat telah menemukan solusi gula lokal.

Dahulu sebelum masuknya industri pabrik gula,orang orang pelosok, telah menemukan proses gula tradisional alami dari buah pohon enau atau pohon lontar.

Warga Pedalaman Flores Manggarai, NTT, khususnya di Kampung Kolang kecamatan kuwus Barat,Kabupaten Manggarai Barat di zaman sebelum Indonesia merdeka sudah mampu menghasilkan gula secara tradisional.

Warga Kolang,Hita menyebutnya dengan Kokor Gola (bahasa Manggarai) atau Masak Gula.

Tradisi ini di wariskan secara turun temurun dan masih bisa di temukan hingga saat ini.

Proses Kokor Gula di lakukan warga pedalaman dengan  mencari pohon enau yang sedang berbuah.Dari buah enau menurut sebutan orang Manggarai Buah Raping itu kemudian di pukul hingga lembek dan mengeluarkan air lalu di iris (Pante,bahasa Manggarai) air jus buah enau di tampung dalam gogong (bambu) sebagai tempayan.

Baca juga : Impor Raw Sugar melalui PTPN akan Bantu Petani

"Proses pemukulan batang buah enau atau Ndara memakan waktu satu bulan hingga air tetesan buah mengalir.Air enau minze bisa menghasilkan manis maupun dapat di proses menjadi alkohol,"tutur Mikael Ardin Warga Kolang Minggu 27/10.

Adalah satu kehormatan bagi warga kampung jika memiliki gula yang terbuat dari enau.karena kala tu warga pedalaman kesulitan menghidangkan kopi tànpa cita rasa manis.

Penghasil kokor gola,bisa menukarkan hasil produksinya berupa beras atau kopi. Kearifan lokal orang pedalaman masih di gunakan dan dapat menjual gula mèrah hingga saat ini.

Mikael mengaku gola merah memiliki kasiat tersendiri dapat menghilangkan sakit lambung mengurangi sakit maag atau Lambung.

Proses gula secara tradisional ini perlu didukung dengan proses pemasaran sehingga orang yang bekerja membuat gula tradisional bisa menafkahi hidup.

Tradisi kokor gola biasanya dilakukan jelang perayaan Natal atau Paskah. Warga mencari gula untuk membuat kue atau minuman berupa kopi atau teh.Satu satunya adalah Gola merah atau gola semut.

Gola merah atau gola semut dalam bentuk tepung merupakan hasil proses air jus manis buah enau yang di masak selama dua hingga tiga jam.Hal ini di lakukan oleh tukang Pante Tuak (tukang iris jus buah enau).

"Tidak saja di butuhkan pada waktu hari raya besar agama tetapi hajatan adat pernikahan dan lain sebagainya,"ucap Mikael.

Rinus Sidan mengisahkan kokor gola warga lokal biasanya di iringi dengan dendangan lagu menemani orang yang tengah masak air jus enau menjadi gula.

Kebiasaan ini di warnai dengan lagu pantun bersahutan sebagai penghibur lelah. Belum lagi di ikuti tiupan suling bambu suasananya terasa bersahabat dengan alam.

Mikael dan Rinus berharap ada bantuan modal dan bisa di produksi gula lokal dalam jumlah banyak dan bisa di pasarkan secara luas. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More