Minggu 27 Oktober 2019, 23:15 WIB

Festival Ratoh Jaroe, Diplomasi Budaya ala Aceh

Zubaedah Hanum Ilyas/H-1 | Humaniora
Festival Ratoh Jaroe, Diplomasi Budaya ala Aceh

MI/Hanum
Penampilan tari tradisi asal Aceh, Ratoh Jaroe yang memukau karena memadukan gerak tangan dan tubuh secara bersamaan.

 

RATUSAN remaja putri berpakaian khas Aceh memenuhi auditorium Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Sabtu (26/10) malam. Tampak warna-warni dan beragam motif, tapi tetap memunculkan motif pintu Aceh pada baju maupun celana panjang hitam yang mereka kenakan.

Polesan bedak dan pemulas bibir mereka tak bisa menyembunyikan betapa letihnya mereka, setelah seharian mengikuti audisi grand final Festival Ratoh Jaroe 2019 memperebutkan piala bergilir Gubernur Aceh. Ratoh Jaroe merupakan salah satu tari tradisi Aceh yang mendunia, selain Seudati dan Saman. Meski gerakannya cukup sulit, hal itu tidak menyurutkan animo para milenial yang berasal dari sejumlah SMP, SMA, hingga perguruan tinggi di Indonesia untuk mengikuti audisi Festival Ratoh Jaroe yang diadakan Pemerintah Provinsi Aceh.

“Audisi tari Ratoh Jaroe pada 2019 ini melibatkan 1.560 peserta, yakni satu grupnya terdiri atas 13-20 peserta. Namun, tidak semuanya lolos sampai ke final,” ucap Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), Almuniza Kamal.

Ratoh Jaroe berasal dari bahasa Arab. Ratoh berarti pengucapan doa dengan memuji Allah. Jaroe artinya jari. Ratoh Jaroe ialah tarian memuji kebesaran Allah SWT dengan menggerakkan tangan dan tubuh yang dimainkan sambil duduk.

Festival Ratoh Jaroe tahun ini ialah tahun ke-12 pelaksanaannya, sejak pertama kali digelar pada 2007. Audisi dilakukan tidak hanya di Jabodetabek, tapi juga meluas hingga Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Lewat seleksi ketat berdasarkan kekompakan, kreativitas, penampilan, dan tata busana, tim juri akhirnya mememutuskan SMA Negeri 90 Jakarta dan SMP Islam Al Azhar 8 Kemang Pratama sebagai juara I pada tiap-tiap kelompok.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Jamaluddin mengaku gembira atas sambutan masyarakat Indonesia yang begitu antusias mengikuti Festival Ratoh Jaroe tahun ini. “Tarian ini memang dari Aceh, tapi sudah menjadi pemersatu bangsa Indonesia.”

Ada yang menganggap Ratoh Jaroe merupakan tari Saman karena gerakannya agak mirip. Namun, sebenarnya beda. Jika tari Saman dimainkan laki-laki dalam jumlah ganjil, Ratoh Jaroe dimainkan penari perempuan dalam jumlah genap. Tari Saman sama sekali tidak diiringi musik, sedangkan Ratoh Jaroe diiringi musik rapa’i.

Tari Ratoh Jaroe bukan sekadar tarian biasa, tari tradisional ini juga telah melanglang buana hingga memenangi banyak kompetisi seni budaya di berbagai negara. Yang paling penting juga, tarian ini telah memenangi hati generasi milenial dan menepis anggapan bahwa menarikan tari tradisi itu kuno dan tidak kekinian.(Zubaedah Hanum Ilyas/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More