Minggu 27 Oktober 2019, 09:29 WIB

Jumlah Kasus TBC di Cianjur Trennya Meningkat

Benny Bastiandy | Nusantara
Jumlah Kasus TBC di Cianjur Trennya Meningkat

Antara
Petugas menunjukkan sampe dahak pasien yang akan diteliti di lab. Pemkab Cianjur menargetkan penurunan jumlah kasus TBC pada 2030.

 

JUMLAH kasus tuberkulosis di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, trennya terpantau naik tahun ini. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, hingga triwulan ketiga tahun ini, jumlahnya ditemukan sebanyak 3.633 kasus.

"Jumlah temuan kasus TBC di Kabupaten Cianjur relatif tinggi," tutur Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Rostiani Dewi, Minggu (27/10).

Dewi melihat ada dua sisi yang perlu dicermati dari temuan kasus TBC itu. Dari sisi negatifnya, relatif tingginya temuan kasus itu mengindikasikan masih rendahnya kesadaran masyarakat menjaga kesehatan. Tapi dari sisi positifnya, temuan tersebut menjadi sesuatu yang baik dalam pengentasan penyebaran TBC.

"Semakin banyak kasus yang ditemukan, berarti ada tren positif untuk mengeliminasi pengidap TBC di Cianjur," ujarnya.

Kondisi tersebut sejalan dengan upaya Pemkab Cianjur yang menargetkan penurunan jumlah kasus TBC pada 2030 nanti. Upaya penurunan itu tentu pada praktiknya harus menemukan kasusnya, mengeliminasi, serta mengobati.

"Upaya-upaya menurunkan jumlah kasus TBC terus kami lakukan," kata Dewi.

Dari 3.633 kasus TBC tahun ini, sebanyak 219 orang memilih berobat, 138 orang dirujuk ke fasilitas kesehatan, 23 orang dinyatakan sembuh setelah berobat, 17 orang meninggal dunia, dan 53 orang masih dalam perawatan. Dewi tak memungkiri masih terdapat kendala dalam upaya menanggulangi penyebaran TBC, di antaranya kesadaran dan kepatuhan penderita menjalani pengobatan.

"Ada stigma dari para pengidap TBC yang tak menuntaskan pengobatan dengan cara minum obat. Kondisi ini justru malah berbahaya bagi penderita itu sendiri. Mereka berpikiran sudah sehat. Padahal, berobatnya saja tidak tuntas," terang dia.

Jika pengobatan tidak dituntaskan, maka penderita harus memulai kembali pengobatan dari awal. Apabila kondisi tersebut terus berlangsung, dikhawatirkan penderita akan menjadi resisten terhadap obat sehingga penyakit lebih sulit untuk disembuhkan atau dalam istilah medis disebut TB Multidrug Resistant (MDR).

"Kalau sudah seperti ini, seorang penderita TBC harus menjalani perawatan dalam jangka waktu lebih panjang, yakni dua tahun. Per hari harus minum obat 20 tablet ditambah suntik sehari sekali selama 2 tahun," tegasnya.

baca juga: Kemarau Panjang, Produksi Mente dan Kemiri Anjlok

Pengelola Program TBC Dinas Kesehatan Cianjur, Dikdik, menyebutkan terdapat tiga fasilitas kesehatan yang bisa digunakan sebagai tempat pemeriksaan TBC. Ketiganya yakni RSUD Sayang Cianjur, Puskesmas DTP Ciranjang, dan Balai Kesehatan Paru Masyarakat Cianjur.

"Di tempat itu tersedia alat tes cepat molekuler (TCM). Pemeriksaan juga bisa dilakukan secara online yang terintegrasi dengan fasilitas kesehatan. Semuanya berbasis aplikasi, pelaporan, dan pencegahan penularan," terang Dikdik. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More