Minggu 27 Oktober 2019, 08:45 WIB

Kabinet Indonesia Maju Simbol Kerukunan

Kabinet Indonesia Maju Simbol Kerukunan

MI/Andry Widyanto
Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin

 

WAKIL Presiden Ma’ruf Amin menyebut komposisi Kabinet Indonesia Maju menggambarkan kerukunan di kalangan elite. Masyarakat diharapkan mencontoh para elite yang sudah rukun.

“Pak Jokowi mengumumkan kabinet yang mengakomodasi banyak pihak, termasuk lawan politik. Di tingkat elite kerukunan sudah terbangun,” kata Wapres Ma’ruf di Kompleks Media Group, Kedoya, Jakarta, Sabtu (26/10).

Wapres menyebut kerukunan antarsesama menteri di Kabinet Indonesia Maju begitu terasa. Tidak ada lagi sekat-sekat yang memisahkan para menteri meski mereka berasal dari berbagai latar belakang politik.

Ma’ruf pun berharap masyarakat ikut mencontoh sikap para elit yang sudah rukun. Dia percaya jika kalangan elite rukun, maka masyarakat juga akan rukun.

“Seluruh masyarakat terutama pemimpin-pemimpinya, tokoh-tokohnya, baik tokoh politik maupun agama, kalau kerukukunan dimulai dari pemimpinya, akar rumputnya akan ikut,” ujarnya.

Kabinet Indonesia Maju berisikan 34 menteri, empat pejabat setingkat menteri, dan 12 wakil menteri. Para menteri dilantik Rabu, 23 Oktober 2019. Sementara itu, para wakil menteri dikukuhkan Jumat, 25 Oktober 2019. 

Kabinet pun berisikan beragam latar belakang. Dari kalangan profesional contohnya, eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD ditunjuk menjadi menteri koordinator politik, hukum, dan keamanan (menko polhukam). Bekas CEO Gojek Nadiem Makarim dipilih menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan (mendikbud).

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menjadi lawan Jokowi di Pemilihan Presiden 2019 juga dirangkul menjadi menteri pertahanan (menhan). Sementara itu, partai nonparlemen, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), mendapat kursi wakil menteri agraria.

Pada bagian lain, Menteri Agama RI Fachrul Razi menegaskan tekad bangsa Indonesia yakni terus mengedepankan kerukunan dan persatuan bangsa. Ia menyebut pihak yang tidak menginginkan terciptanya kerukunan dan memecah belah persatuan bukanlah bangsa Indonesia.

“Tekad kita semua kan sama. Pokoknya kalau ngomongin masalah kerukunan, kalau ada (yang tidak ingin rukun) berarti bukan orang Indonesia” ujar Fachrul di Komplek Media Grup, Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (26/10).

Fachrul menekankan pentingnya Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa. Ia juga menggarisbawahi arti toleransi sebagai alat mengokohkan bangsa Indonesia, sembari menambahkan tidak akan memberi ruang kepada anti-toleran. (Uca/X-6)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More