Minggu 27 Oktober 2019, 08:15 WIB

Bangga Berbahasa Indonesia

Atalya Puspa | Humaniora
Bangga Berbahasa Indonesia

ANTARA/ZABUR KARURU
Foto udara saat Upacara Sumpah Merah Putih yang digelar dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda di lapangan Tugu Pahlawan, Surabaya,

 

SETIAP memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, sebagai warga negara kita diingatkan kembali seberapa besar penghormatan terhadap bangsa, tanah air, dan bahasa Indonesia.

Begitu berulang saban tahun.

Penghargaan anak bangsa terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional rupanya masih menemui rintangan meskipun telah dicanangkan sebagai bahasa pemersatu di peringatan Hari Sumpah Pemuda beberapa tahun silam.

"Ada dua indikasi kemunduran bahasa Indonesia. Pertama, penggunaan di ruang publik yang tidak tertib, lalu keinginan memperjuangkan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional," kata pengamat bahasa Indonesia dari Universitas Mataram, NTB, Mahsun, kepada Media Indonesia, kemarin.

Mahsun menyoroti hal yang tidak dapat dipandang remeh, yaitu penggunaan bahasa Indonesia di kantor pemerintah. "Ada penunjuk arah pakai bahasa Inggris. Perhatikan juga menteri yang diwawancara lebih suka mengucapkan kata-kata asing yang tidak perlu."

Di sisi lain, para ahli bahasa justru memiliki misi menginternasionalkan bahasa Indonesia dengan menyatukannya dengan bahasa Melayu. "Itu bertentangan dengan Sumpah Pemuda yang menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Yamin dulu mengusulkan menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Melayu. Sanusi Pane menolaknya, jangan bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia. Artinya, bahasa Indonesia sudah mengarah kepada identitas bangsa."

Untuk meningkatkan komitmen masyarakat agar mau menggunakan bahasa Indonesia, lanjut Mahsun, pemerintah konsisten menerapkan peraturan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik.

"Pejabat harus memberi keteladanan berbahasa. Dulu Gubernur DKI Sutiyoso mengeluarkan perda agar nama hotel pakai bahasa Indonesia. Itu bagus dan menular ke kota-kota lain," lanjut Mahsun.

Bagaimana tanggapan dari kalangan milenial? Rany Anjany, 28, menuturkan dia tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Penerjemah pemerintah ini merasa nyaman berbahasa Indonesia meskipun bahasa asing seperti Inggris yang marak digunakan kaum milenial.

"Kendalanya jargon, istilah, dan kata yang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia, misalnya unicorn," ungkap Rany.

Sebagai penerjemah pemerintah, Rany sudah mengikuti tes kompetensi bahasa Indonesia dengan hasil memuaskan. "Tes ini mengukur kemahiran penutur lokal dan asing dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia."

Berdaulat

Kepala Badan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Dadang Sunendar, tidak menampik penggunaan bahasa gaul di kalangan milenial yang semakin menggejala. Dadang tidak khawatir hal itu berdampak terhadap penggunaan bahasa Indonesia.

"Saya yakin seiring waktu dan usia penggunaan bahasa Indonesia oleh generasi milenial semakin baik. Secara umum masyarakat menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, bekerja, dan belajar," jelas Dadang, Jumat (25/10).

Berdasarkan data BPS pada 2011, sebanyak 79,5% warga masih berkomunikasi menggunakan bahasa daerah, sedangkan 19,9% sisanya menggunakan bahasa Indonesia.

"Oksigen bangsa ini ialah bahasa negara. Jangan sampai bahasa Indonesia hilang di ruang publik. Bahasa Indonesia harus berdaulat di negara sendiri," tandas Dadang. (Ind/Rif/Ant/X-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More