Minggu 27 Oktober 2019, 06:45 WIB

Asbun (Asal Bunyi) di Twitter

Riana Septiyani Staf Bahasa Media Indonesia | Weekend
Asbun (Asal Bunyi) di Twitter

Dok.MI
Ilustrasi

KETIKA kita tidak bisa tidur alias insomnia, media sosial menjadi pelampiasan. Itulah yang dilakukan kebanyakan orang belakangan ini, berselancar di dunia maya mencari hiburan. Di antara banyaknya platform media sosial, Twitter pun jadi pilihan. Media sosial yang sedang ramai digandrungi generasi milenial dan generasi Z itu dirasa paling cocok sebagai ‘pelarian’. Hal itu disebabkan Twitter sebagai salah satu media penyampai informasi memiliki sifat yang up to date dan lengkap bagi jiwa yang haus akan keingintahuan.

Dalam menyampaikan informasi, gagasan, ide, atau konsep terkadang tidak terlepas dari salah ketik (tipo). Dalam dunia kepenulisan, itu ialah hal yang lumrah. Saat orang lain melihat kesalahketikan itu, refleks saja langsung membenarkan kata, frasa, hingga kalimat yang salah ketik itu.
Akan tetapi, hal itu menjadi salah dilakukan apabila pengoreksian kata malah makin membuat salah.

Seperti sebuah kicauan yang penulis temui di beranda Twitter, yang membuat penulis cukup mengernyitkan dahi. Kicauan itu merupakan respons terhadap berita yang sedang hangat diperbincangkan publik. Judul berita ialah ‘PKS: Pembatalan Kuliah Umum Ustaz Abdul Somad Tunjukkan UGM tak Siap Berbeda’ (news.detik.com). Kicauan warganet terhadap judul itu pun beragam.

‘Setelah kita cermati, apakah ada dari kicauan yang keliru? Memang betul ada yang keliru, yakni kata ‘ustaz’ dan ‘ustadz’. Dalam KBBI V, kata yang tepat ialah ‘ustaz’.

Contoh lainnya. Terdapat judul lain yang berbunyi ‘Pendaftaran Pasien Ningsih Tinampi Ditutup, sudah 18 Ribu Orang Antre’ (kumpar­an.com), yang direspons oleh warganet ‘Lama lama antri haji kalah’.

Pastilah yang dikritisi ialah kata ‘antre’ dan ‘antri’. Dalam KBBI V, kata yang tepat ialah ‘antre’.

Begitu pula dalam Sesak Napas akibat Gas Air Mata, Sejumlah Mahasiswa Dibawa ke RSAL Mintoharjo’ (megapolitan.kompas.com), yang direspons warganet seperti ini ‘Mereka yang dibawa ke rumah sakit kebanyakan mengeluh sesak nafas dan mata perih akibat terpapar gas air mata’. Jelas sekali hal yang patut disoroti ialah kata ‘napas’ dan ‘nafas’.

Dalam kacamata bahasa, fenomena itu disebut ­hiperkorek. Dalam KBBI V, hiperkorek bermakna`bersifat atau berkaitan dengan hiperkoreksi’. Hiper­koreksi yang dimaksud ialah perbuatan memperbaiki secara berlebihan sehingga hasilnya malah menjadi sebaliknya. Mengapa hal itu terjadi?

Hal itu disebabkan orang yang membenarkan itu memiliki ketidaktahuan dan tidak acuh terhadap bahasa Indonesia. Padahal, jika dilihat dari contoh yang telah dijabarkan, sudah jelas sekali hal yang benar seperti apa.
Meskipun bahasa Indonesia sebagai B-1 alias pemerolehan bahasa pertama sejak kecil, tidak menjamin menguasai bahasa Indonesia dengan baik.
Alhasil, yang terjadi malah tambah salah, bukannya tambah benar.

Jadi, apakah penyebab fenomena itu? Apakah Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan yang telah gagal menyosialisasikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Atau memang generasi sekarang asal bunyi tanpa tahu kebenarannya? Untuk itu, alangkah eloknya bila kita introspeksi agar tidak menyebarkan kekeliruan berbahasa.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More