Sabtu 26 Oktober 2019, 16:06 WIB

Kecintaan Terhadap Bahasa Indonesia Makin Luntur

Atalya Puspa | Humaniora
Kecintaan Terhadap Bahasa Indonesia Makin Luntur

MI/FOURI GESANG SHOLEH
Ilustrasi

 

PENGGUNAAN bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional rupanya masih menemui berbagai rintangan. Meskipun telah dicanangkan sebagai bahasa pemersatu bangsa di peringatan Hari Sumpah Pemuda beberapa tahun silam, bahasa Indonesia tidak serta-merta sepenuhnya dicintai oleh bangsa.

Dikatakan oleh Ahli Bahasa dari Universitas Mataram Mahsun, di peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 ini, dirinya malah melihat adanya indikasi lunturnya komitmen bangsa untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai identitas.

"Ada dua yang menurut saya menjadi indikasi kemunduruan bahasa Indonesia. Pertama, penggunaan ruang publik yang tidak tertib memakai bahasa Indonesia. Kemudian, keinginan guru besar yang memperjuakan bahasa Melayu/ bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional," kata Mahsun kepada Media Indonesia, Sabtu (26/10).

Dari sisi penggunaan bahasa di ruang publik, Mahsun menyoroti dari hal yang paling kecil, yaitu penggunaan bahasa Indonesia di instansi pemerintahan.

"Lihat saja di gedung instansi, itu penunjuk arah saja pakai bahasa Inggris. Itu sangat memprihatinkan," ujarnya.

Lebih parah lagi, kata Mahsun, pejabat publik sering kali menyelipkan bahasa asing yang tidak perlu dalam menyampaikan pernyataan. "Lihat saja menteri-menteri yang diwawancarai, mereka sering kali menggunakan bahasa asing yang tidak perlu," katanya.

Di sisi lain, orang yang ahli di bidang bahasa justru memiliki misi untuk menginternasionalkan bahasa Indonesia dengan cara menyatukannya dengan bahasa Melayu. Hal itu sangat bertentangan dengan semangat juang Sumpah Pemuda yang menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.

"Dulu di Sumpah Pemuda butir ketiganya Moh Yamin mengusulkan menjunjung tunggi bahasa persatuan bahasa Melayu. Tapi itu ditolak oleh Sanusi Pane dan kawan-kawan lainnya agar bukan bahasa Melayu tapi bahasa Indonesia. Artinya bahasa Indonesia bahasa yang mengarah pada identitas bangsa kita," tuturnya.

Untuk meningkatkan komitmen bangsa akan penggunaan bahasa Indonesia, pemerintah harus konsisten dalam melaksanakan berbagai peraturan mengenai penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik.

"Sebenarnya gampang. Semua peraturan konsisten dilaksanakan. Beri keteladanan. Semua harus dimulai dari instansi pemerintah," ujarnya.

Selanjutnya, penerapan sanksi juga dapat dilakukan untuk mendorong masyarakat terbiasa tertib menggunakan bahasa Indonesia.

"Kita perlu keteladanan pejabat dalam berbahasa. Misalnya dulu Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pernah mengeluarkan petaturan daerah tentang pemakaian bahasa sampai semua nama hotel harus pakai bahasa Indonesia. Dan itu menular ke kota-kota lain. Ketegasan seperti itu yang harus dilakukan," tandasnya. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More