Sabtu 26 Oktober 2019, 22:20 WIB

Mengenang sang Sahabat, Neles Tebay

MI | Weekend
Mengenang sang Sahabat, Neles Tebay

MI/Adam Dwi
Pendeta Jacky Manuputty

PASKAH tahun ini menjadi paskah yang kelam bagi Jacky Manuputty. Malam paskah, tepatnya 14 April 2019, sahabatnya Pendeta Neles Tebay mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Carolus Jakarta, karena komplikasi tulang.

“Saya pribadi sangat kehilangan, saya dan beberapa sahabat Jaring­an Iman selalu rutin menjenguk Pastor Neles Tebay di Rumah Sakit Carolus Jakarta. Kebetul­an rumah saya di belakang Rumah Sakit itu. Saya beruntung bisa menemani beliau hingga akhir hayatnya,” ujar Jacky kepada Media Indonesia, Rabu (16/10).

Kepergian Neles membuat  Jacky kembali mengingatkannya akan pertemuan pertama mereka. Kala itu, Jacky disapa Neles dengan salam khas suku Dhani di sela pertemuan Jaringan Antar­iman Indonesia di Yogyakarta, pada 2005. 

“Dia pertama kali menyapa saya dengan salam khas ‘Wawawa’ dari Suku Dhani. Saya langsung terkesan dan dia orang yang cukup supel dan terbuka dengan gagasan-gagasan baru,” ujarnya. 

Sejak pertemuan itu, hubungan keduanya semakin dekat dan menjadi sahabat. Meski terpisah jarak, mereka kerap bertukar pikiran tentang masalah-masalah yang menarik perhatian keduanya. 

Di matanya, Neles merupakan sosok yang selalu bisa mencairkan suasana dengan berbagai lelucon ala mob Papua-nya (stand up come­dy asal Papua) dan terbuka.  “Dia senang mendiskusikan topik-topik baru tentang perkembangan isu kemanusiaan dan perdamaian, seperti yang biasa kami diskusikan. Seorang sahabat yang hangat, lembut dalam bertutur ketika menyampaikan pandangannya atas suatu hal,” ujarnya.

“Dia juga orang yang berpendirian, orang yang jujur, sesuai antara sikap dan perkataannya. Pastor Neles selalu tegas memperjuangkan gagasan-gagasan, tidak kenal lelah dalam memperjuangkan jalan damai untuk tanah kelahirannya.”

Neles, kata Jacky, percaya jalan dialog menjadi pemecah masalah di Papua. Keinginan Neles itu pun terus dilanjutkan Jacky yang juga terlibat dalam Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antariman dan Antarperadaban.

“Jadi, ini yang Pak Neles upayakan agar penyelesaiannya masuk dalam jalur dialog yang bermartabat, dialog yang setara, antara Jakarta dan Papua, antara komunitas-komunitas di Papua, dan itu yang dirangkum dalam buku kecil ini,” ujar Jacky pada peluncuran buku Jakarta-Papua Peace Dialogue A Papuan Perspective, yang merupakan terjemahan bahasa Inggris dari buku Inisiatif Dialog Damai Papua  dari Perspektif Orang Papua oleh Pater Neles Tebay yang diterbitkan pada 2009, di Jakarta, Selasa (15/10).

Dalam acara itu, Jacky mengaku sebagai kesempatan mengenang seorang sahabat. “Lebih daripada itu, kegiatan ini sangat signifikan bagi kondisi Papua saat ini, teristimewa (guna merefleksikan) gagasan dialog untuk mencapai Papua yang damai dari Neles Tebay untuk diarusutamakan lagi, digaungkan lagi,” ujarnya.

Semangat juang melalui jalan perdamai­an yang selalu disuarakan Neles Tebay harus dilanjutkan generasi penerus. Seperti yang dilakukan Yayasan Tifa dengan meluncurkan buku Neles Tebay di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2019 di Bali, 23-27 Oktober 2019. Selain peluncuran buku, ada world premiere karya musik penghormatan bagi mendiang Neles Tebay dengan tajuk Rapsodia Nusantara #24 gubah­an Ananda Sukarlan. Ananda Sukarlan, gubahan melodi rakyat ‘Domidow’ dari Dogiyai, Papua, dalam bentuk komposisi musik klasik piano.

“Untuk Rapsodia Nusantara ini saya mengambil elemen-elemen dari lagu-lagu daerah, khususnya Dogiyai. Saya menggunakan satu melodi yang sering digunakan untuk sapaan di sana, kemudian saya kemas,” jelas Ananda. (*/M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More