Sabtu 26 Oktober 2019, 07:30 WIB

Jangan Ada Matahari Kembar di Kabinet Jokowi

Putra Ananda | Politik dan Hukum
Jangan Ada Matahari Kembar di Kabinet Jokowi

MI/MOHAMAD IRFAN
Sekretaris Fraksi PAN MPR RI Saleh Partaonan Daulay (tengah) bersama dengan Senator Papua Barat Filep Wamafma (kanan) .

 

WAKIL Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jazilul Fawaid berharap tidak terjadi dualisme kepemimpin-an dalam kementerian yang dilengkapi wamen. Para wamen diharapkan mampu bekerja sama dan bersinergi membantu mewujudkan visi dan misi Presiden Jokowi-Wakil Presiden Ma'ruf Amin.

"Jangan sampai ada matahari kembar di kementerian. Apalagi Pak Jokowi berharap setiap menteri tidak membawa visi masing-masing," tutur Jazilul di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

Jazilul mengakui wakil menteri pada Kabinet Indonesia Maju lebih banyak dari Kabinet Kerja. Dia yakin Jokowi memiliki pertimbangan khusus merekrut 12 wamen.                                  

Partai Amanat Nasional (PAN) mempertanyakan komitmen Presiden Joko Widodo untuk memangkas birokrasi di pemerintahan. Keputusan menunjuk 12 wakil menteri (Wamen) dinilai kontradiktif dengan gagasan Presiden sendiri.

"Pertanyaannya apakah ini tidak bertentangan atau kontradiktif dengan gagasan Presiden untuk memangkas birokrasi di pemerintahan," papar Wakil Sekretaris Jenderal PAN Saleh Daulay Partaonan, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.

Saleh merujuk pada pidato Presiden Jokowi ketika dilantik MPR RI, pada 20 Oktober. Jokowi menekankan soal reformasi birokrasi.

Ia berencana menyederhanakan jabatan eselon dengan memangkas eselon III dan IV. Presiden mengatakan nantinya eselon-eselon tersebut akan disederhanakan menjadi 2 level.

"Itu sebetulnya satu langkah yang progresif dan saya kira perlu dicoba. Tapi pada sisi yang lain kita mendengar ada 12 orang yang sedang diperkenalkan di Istana untuk menjadi wakil menteri," tutur Saleh.

Saleh juga menyebut keha-diran kedua belas wamen yang akan membantu kinerja Kabinet Indonesia Maju diduga kental beraroma politis. Komposisi wamen, menurut Saleh, terlihat seperti mengakomodasi kepentingan parpol.

"Komposisi juga bukan hanya dari kalangan profesional, melainkan dari kalangan parpol. Nah apakah ini demi mengakomodasi parpol, ya jelas dong. Namanya dari pimpinan parpol. Apakah tujuannya politis atau strategis ini yang kita tanya kepada Presiden," tutur Saleh.

 

Apresiasi

Pada kesempatan berbeda, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyatakan merasa terhormat dan bangga pada keputusan Presiden Jokowi yang memilih Surya Tjandra menjadi Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/BPN).

"Bro Surya adalah salah seorang kader terbaik PSI. Dia sosok yang cerdas dan berintegritas. Kami yakin dia akan mampu berkontribusi besar di posisi wakil menteri," kata Ketua Umum PSI Grace Natalie, dalam keterangan tertulisnya, kemarin.  

Menurut Grace, Surya cukup lama aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang membuatnya memiliki kepekaan yang tinggi atas isu  kemiskinan dan ketidakadilan. Oleh sebab itu, kepeduliannya pada rakyat tidak perlu diragukan lagi.   

Partai Perindo juga meng-apresiasi penunjukan salah satu kader mereka, Angela Tanoesoedibjo, sebagai wamen. Anak sulung Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo itu dinilai mumpuni menjalankan tugasnya sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

"Kami bangga ada perwakilan di kabinet. Kami yakin mampu menjalankan tugas dan semoga sukses untuk kesejahteraan Indonesia," kata Wakil Ketua Umum Partai Perindo Syafril Nasution. (Ant/Medcom/P-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More