Jumat 25 Oktober 2019, 22:14 WIB

Mendag Diminta Susun Strategi Perdagangan yang lebih Ekstensif

Antara | Ekonomi
Mendag Diminta Susun Strategi Perdagangan yang lebih Ekstensif

MI/Susanto
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto

 

MENTERI Perdagangan Agus Suparmanto diminta untuk menyusun strategi perdagangan yang lebih ekstensif ke luar negeri.

"Tentu perlu dilanjutkan. Karena untuk meningkatkan ekspor, kita perlu strategi yang lebih ekstensif keluar," kata pengamat perdagangan international dari Universitas Indonesia Fithra Faisal di Jakarta, Jumat (25/10).

Apalagi, sambung dia, sejumlah perjanjian perdagangan internasional telah dikebut di kepemimpinan Enggartiasto Lukita.
 
Dia menjelaskan, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 6%, butuh pertumbuhan ekspor sebesar 9,8% per tahun. "Dalam konteks inilah pentingnya mencari mitra-mitra dagang baru," paparnya.

Baca juga: Barata Indonesia Konsisten Ekspor Komponen Pembangkit Lisrik

Mantan Mendag Enggartiasto, menurut Fithra, telah mengupayakan perjanjian dagang bilateral maupun regional dengan pihak-pihak yang potensial, seperti dengan Hongkong, Inggris, Australia, dan juga Uni Eropa.
 
"Ini negosiasi-negosiasi yang krusial. Dengan Uni Eropa juga merupakan pasar yang cukup penting," jelasnya.

Selain dengan mitra dagang tradisional, ia juga menyatakan bahwa perjanjian perdagangan dengan negara nontradisional jelas memiliki potensi signifikan pula.
 
Dia menegaskan Indonesia harus terus aktif mencari pasar-pasar di luar negeri seperti yang selama ini sudah dilakukan. Tetapi dia juga mengingatkan Menteri Perdagangan baru Agus Suparmanto, selain terus mencari pasar, juga terus memperbaiki kualitas komoditas ekspor.

Adapun pengamat ekonomi dari Direktur Eksekutif Lembaga untuk Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran (LETRAA) Yenny Sucipto menyarankan kepada Menteri Perdagangan Agus Suparmanto untuk menjaga keran jalur perdagangan internasional.
 
"Yang dilakukan mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sudah baik. Tinggal analisis konstelasi di tingkat internasional. Harus meningkatkan bargaining (daya tawar). Kita jangan menjadi bagian yang pasif. Harus memiliki bargain kuat dalam perdagangan internasional," kata Yenny.
 
Yenny melanjutkan, pemerintah di periode kedua Jokowi harus tetap memerhatikan daya saing Indonesia yang masih lemah. Karena bentuk persyaratannya terlalu mudah, grade Indonesia kalah dengan negara lain seperti perjanjian G to G memberikan kebutuhan persyaratan untuk Indonesia.
 
Menteri Perdagangan, kata dia, juga harus menjaga stabilitas harga pangan. Kemudian, jalur perdagangan internasional yang telah dibuka harus terus dijaga kelanjutannya.
 
"Sebuah keberhasilan yang baru untuk visi presiden ke depannya. Harus dilanjutkan menteri selanjutnya. Sebuah keberhasilan itu harus dipertahankan. Kalau yang baik itu perbaiki. Kalau ada yang kurang itu ditambah dan diperbaiki," harapnya.

Yenny mengingatkan, Presiden Jokowi telah menyatakan semua kementerian/lembaga tidak memiliki visi misi, melainkan menjalankan misi presiden dan wapres. (X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More