Jumat 25 Oktober 2019, 14:15 WIB

99 Wajah Cinta di Film Terbaru Garin

Bagus Pradana | Weekend
99 Wajah Cinta di Film Terbaru Garin

Dok. MNC Pictures
Film 99 Nama Cinta mulai tayang di bioskop 23 Oktober 2019.

APA jadinya jika seorang produser sekaligus presenter acara gossip yang cantik, muda, dan penuh ambisi, jatuh cinta dengan 'Gus' dari pesantren tradisional? Narasi cerita yang saling tabrak inilah yang ditawarkan Garin Nugroho dalam skenario film 99 Nama Cinta. Dua dunia yang kontras antara industri hiburan dengan keseharian pesantren seakan dipadu-padankan menjadi satu dalam film yang disutradarai Danial Rifki ini.

Berperan sebagai Talia (Acha Septriansa) tokoh utama film ini berhasil menarik masuk penonton ke dalam keseharian industri pertelevisian yang dekat dengan deadline dan gimmick untuk mempertahankan rating di hati pemirsanya. Tak ketinggalan, hierarki dalam industri ini pun bak dikuliti dalam film yang berdurasi hampir 2 jam ini.

Sama seperti Acha, Deva Mahendra yang mendapatkan peran sebagai seorang putra Kyai Pesantern berhasil menghadirkan suasana pesantren ala Jawa yang tidak terlalu di dramatisir. Ia hadir sebagai sosok 'Gus' yang kekinian, berpendidikan, easy going dan dalam ilmu agamanya yang bernama Gus Kiblat.

Kisah pertemuan dua insan yang berbeda kehidupan ini menjadi benang merah yang mengaitkan tiap adegan dalam film ini yang diproduksi oleh MNC Pictures itu. Ada unsur religi dalam film ini, tetapi nuansa itu tampil mengalir lewat keseharian,  bukan menggurui.

Seperti film-film sentuhan Garin yang lain, kedalaman cerita juga menjadi ciri khas yang lekat dalam 99 Nama Cinta. Penonton seakan diberikan keleluasaan untuk mengartikan sendiri wujud cinta. Wujud itu nyatanya tidak satu, layaknya judul film tersebut.

Hal itu pula yang dikatakan Lukman Sardi selaku Direktur Kreatif MNC Pictures dalam penayangan perdana film 99 Nama Cinta, di Senayan City, Jakarta, Rabu (23/10). "Jadi 99 nama cinta ini ide dari Mas Garin, Mungkin tentang wacana religi seperti 99 Asmaul Husna. Kami ingin menghadirkan cinta itu sendiri dalam berbagai wujud, jadi bukan sisi religinya, karena yang kami hadirkan adalah sisi orang yang beragama Islam yang berinteraksi secara sosial dan menjalankan apa yang ia Imani, tanpa ada nuansa menggurui," jelas Lukman.

Selain Jakarta, Gala Premiere juga akan digelar di delapan kota lainnya di Indonesia, ialah Sidoarjo, Malang, Kediri, Tegal, Purwokerto, Cirebon, Bandung dan Bekasi.

Proses produksi 99 Nama Cinta juga menyimpan cerita menarik. Bila film-film lain biasanya mengangkat produk kopi, maka kebun coklat dan bahkan kegiatan produksi coklat dipilih oleh tim produksi sebagai pembeda dari film lain.

"Waktu tim produksi mencari lokasi, ada beberapa tempat yang kita datangi tentang kebun coklat dan segala macamnya, ada yang coba cek yang di Glenmore dan daerah-daerah lainnya. Sampai akhirnya kita dapat di Kediri. Kebanyakan kan kalo film-film Indonesia ada sedikit latar belakang kopi, yang lagi tren kan kopi, nah kita di film ini mengarahnya ke produk coklat," terang Lukman Sari.

Untuk sebuah film komedi romantis bernuansa Islami, 99 Nama Cinta tidak akan mengecewakan untuk ditonton. kekuatan karakter masing-masing tokoh tidak menciptakan dikotomi, melainkan membaur.

Salah satu karakter yang butuh usaha keras dalam pendalaman karakternya adalah Talia. Sebagai pemeran, Acha mengaku kesulitan saat melakukan pendalaman karakter. Ia sempat mencari tokoh panutan yang mendekati untuk dijadikan acuan karakter, namun ia merasa tidak menemukan.

"Role modelnya sebenarnya di dunia nyata saya belum ketemu, karena ini adalah presenter yang juga produser. Saya nggak tahu entah kenapa kok tidak memikirkan presenter yang membawakan acara gosip, yang ada dipikiran saya waktu itu adalah presenter yang merangkap sebagai produser sebuah acara, yang cerdas dan punya passion. Saya akhirnya merujuk ke sosok Najwa Shihab, mungkin nggak cocok ya sama saya," pungkas Acha sembari merendah. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More