Jumat 25 Oktober 2019, 10:15 WIB

Suhu Panas di Indonesia akibat Gerakan Semu Matahari

Cindy Ang | Humaniora
Suhu Panas di Indonesia akibat Gerakan Semu Matahari

ANTARA/M Risyal Hidayat
Dua bocah bermain di kolam air mancur di atas sungai Ciliwung, Pasar Baru, Jakarta.

 

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara pada siang hari dapat mencapai 37 derajat celcius sejak 19 Oktober 2019. Hal itu disebabkan gerak semu matahari.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, pada September, matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan bumi selatan. Hal tersebut akan terjadi hingga Desember mendatang.

"Oktober ini, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian Selatan (Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dsb)," kata Dwikorita lewat keterangan tertulis, Jumat (25/10).

Kondisi itu, lanjutnya, menyebabkan radiasi matahari yang diterima
permukaan bumi di wilayah tersebut relatif lebih banyak. Sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari.

"Atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan relatif kering sehingga sangat menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari," terang Dwikorita.

Baca juga: KLHK Libatkan Masyarakat untuk Pelestarian Sumber Daya Alam

Dwikorita menambahkan minimnya pertumbuhan awan ini mendukung pemanasan permukaan bumi. Hal ini akhirnya berdampak pada peningkatan suhu udara.

Menurutnya, gerak semu matahari adalah siklus yang biasa terjadi setiap tahun. Potensi suhu udara panas ini dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

"Sekitar satu minggu ke depan, masih ada potensi suhu terik di sekitar wilayah Indonesia. Karena posisi semu matahari masih akan berlanjut ke selatan," ujar Dwikorita.

Sementara, kondisi atmosfer dinilai masih cukup kering. Sehingga potensi pertunbuhan awan sangat kecil untuk bisa menghalangi terik matahari.

BMKG mengimbau masyarakat mengonsumi air putih yang cukup, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan. Serta mewaspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More