Kamis 24 Oktober 2019, 23:56 WIB

Idham dan Tito Pernah Lumpuhkan Otak Bom Bali

Nur Aivanni | Politik dan Hukum
Idham dan Tito Pernah Lumpuhkan Otak Bom Bali

Antara
Kapolri Jenderal Karnavian (kiri) menyerahkan tongkat komando kepada pejabat baru Kabareskrim Irjen Idham Azis (tengah), 24 Januari 2019

 

RABU pagi, DPR telah menerima Surat Presiden (Surpres) terkait pengajuan Komisaris Jenderal Idham Azis sebagai calon tunggal Kapolri. Ia bakal menggantikan Jenderal Tito Karnavian yang ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Dalam Negeri.


Sebelumnya, Tito sudah mengajukan surat pengunduran diri ke DPR dan disetujui tanpa interupsi dalam rapat paripurna DPR, Selasa (22/10). Surat itu masuk bersamaan dengan surat Presiden terkait permintaan pemberhentian Tito sebagai Kapolri.

Jika menilik rekam jejak mantan Kapolda Metro Jaya itu, Idham merupakan salah satu perwira tinggi Polri yang punya segudang prestasi. Berbagai jabatan di Korps Bahayangkara pernah ditempati hingga ke kursi Kepala Bareskrim Polri.

Selain karirnya cemerlang, Idham juga sering dilibatkan dalam tim satuan tugas untuk mengungkap perkara-perkara yang menjadi sorotan publik karena punya latar belakang sebagai reserse dan antiteror.

Pada Desember 2001, Idham jadi anggota Tim Kobra untuk menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tomi Soeharto di bawah pimpinan Tito Karnavian. Saat itu, Idham bertugas di Unit Harda Polda Metro Jaya.

Idham bersama Tito telah lama melakukan kerja sama ketika mereka terlibat satuan tugas khusus penanganan peristiwa teror bom Bali II, 2005.

Idham ikut menumpaskan otak bom Bali Dr Azhari di Batu, Malang pada 2005. Saat itu, Idham menjabat Kepala Unit Riksa Subden Investigasi Densus Polri.

Ia kembali bekerja sama dengan Tito dan tim lain di antaranya Petrus Reinhard Golose, serta Rycko Amelza Dahniel. Mereka mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari Kapolri saat itu Jenderal Sutanto.

Seusai berhasil melumpuhkan otak bom Bali Dr Azhari pada 9 November 2005, Idham kembali mendampingi Tito terbang ke Poso, Sulawesi Tengah untuk menuntaskan kasus mutilasi tiga gadis Kristen.

Selanjutnya, lulusan Akademi Kepolisian 1988 itu juga ikut menumpaskan dua teroris kelompok Santoso di Poso, Sulawesi Tengah. Saat itu ia menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Tengah.

Saat menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Idham juga pernah mengungkap pelaku kasus pembunuhan dan sodomi 14 anak jalanan yang ditangkap pada 9 Januari 2010.

Saat jadi Kapolda Metro Jaya, Idham mengungkap kasus penyeludupan narkotika jenis ganja seberat 1,3 ton dari Aceh ke Jakarta dan penyelundupan satu ton sabu 1,6 ton dari Taiwan di Anyer, Banten. Idham terlibat juga dalam operasi camar maleo bersama TNI untuk menangkap kelompok teroris Santoso di wilayah pegunungan Poso, Sulawesi Tengah pada awal 2015.

Selain itu, Idham juga berhasil menjaga situasi keamanan dan ketertiban menjadi kondusif dan aman saat Jakarta sebagai tuan rumah perhelatan Asian Games 2018.

Ketua DPR Puan Maharani mengatakan proses fit and proper tes terhadap Idham akan digelar pekan depan oleh Komisi III DPR.

Sementara, Presiden Jokowi mengatakan akan meminta Kapolri  baru untuk mengusut tuntas kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan.

"Mengenai kasus yang ditanyakan tadi, nanti akan saya kejar pada Kapolri yang baru agar bisa diselesaikan," ujarnya. (Ant/OL-8)

 

 

 

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More