Jumat 25 Oktober 2019, 04:15 WIB

Rotan di Tangan Perempuan Dayak

MI | Nusantara
Rotan di Tangan Perempuan Dayak

MI/Surya Sriyanti
Para anggota kelompok perajin anyaman rotan tengah menyelesaikan anyaman berbentuk tas di

 

PRASUSTYAWATININGSIH sesaat meregangkan otot di badan, kaki, dan tangannya. Perjalanan darat dari Kota Palangka Raya selama 13 jam dengan kondisi jalan jauh dari baik membuat semua bagian tubuh menjadi tegang dan kelelahan.

Namun, sesaat kemudian, pejabat dari Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Tengah itu sudah bisa tersenyum semringah lagi. Puluhan warga Desa Baok, Kecamatan Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara, yang menyambut kedatangan rombongannya dengan antusias, membuat lelahnya seketika hilang.

“Perjalanan panjang nan berat ini memang sesuatu banget, tapi kami lupa dengan kelelahan itu karena ada motivasi besar yang membuat kami datang ke sini,” tutur Soes, panggilan akrab perempuan itu.

Desa Baok berada di pedalaman dengan lokasi paling ujung Kabupaten Barito Utara. Dari Palangka Raya, kendaraan harus lebih dulu menembus wilayah Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Barito Selatan.

Motivasi besar yang membuat Soes dan rombongannya datang ialah tangan-tangan terampil ibu-ibu Dayak di Desa Baok. Dengan wajah yang mulai keriput,  rambut memutih diikat ekor kuda, beberapa tangan perempuan itu mahir merangkai bilah-bilah rotan untuk menjadi kerajinan anyaman yang indah.

Para perempuan itu duduk bersila di pinggiran sebuah ruangan berukuran sekitar 5x6 meter. Wajah mereka tampak cerah, tanpa sedikit pun tersirat kelelahan. Sesekali mereka terkekeh saat bersenda gurau dengan sesamanya menggunakan dialek lokal yang khas.

Miwon, Ketua Kelompok Perajin Anyaman Rotan di Desa Baok, sigap memandu para tamu sekaligus jadi penerjemah. Maklum saja, sebagian ibu perajin itu lebih banyak menggunakan bahasa lokal.

Saat ini, di desa itu ada 3 kelompok wanita perajin rotan. Satu kelompok beranggotakan 20-30 orang.

“Mereka sudah melakoni pekerjaan ini sejak puluhan tahun lalu. Berlanjut karena pendapatan mereka bisa membantu dapur keluarga,” tambah Miwon.

Stok rotan tidak masalah. Semua warga memiliki kebun rotan. Untuk membuat satu tas berbahan rotan butuh waktu 2-3 hari. Satu tas setengah jadi karya perajin itu dihargai Rp115 ribu.

“Hasil karya mereka bagus dan rapi. Setelah jadi, di pasar berharga Rp400 ribu-Rp500 ribu,” ungkap Prasustyawatiningsih.

Bank Indonesia, lanjutnya, sudah menyiapkan program untuk perajin dan warga Desa Baok. Di antaranya mendatangkan ahli untuk membantu meningkatkan kemampuan dan sentuhan seni para perajin sehingga karya mereka mengikuti perkembangan zaman.

Bantuan lain berupa pengadaan alat pembelah rotan. “Alat ini sangat diperlukan agar produktivitas mereka semakin meningkat,” tandas Soes. (Surya Sriyanti/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More