Kamis 24 Oktober 2019, 15:55 WIB

Yayasan Del Buka Akses Pendidikan Ke Masyarakat tak Mampu

Ghani Nurcahyadi | Humaniora
Yayasan Del Buka Akses Pendidikan Ke Masyarakat tak Mampu

Istimewa
Isntitut Teknologi Del

 

PENDIDIKAN menjadi salah satu jalan mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, akses ke dunia pendidikan saat ini belum merata di Indonesia. Hal itu pula lah yang melatarbelakangi Luhut Binsar Pandjaitan dan istrinya, Devi Pandjaitan saat mendirikan Yayasan Del, 2001 silam.

Karya pertama Yayasan yang memiliki moto MarTuhan (beriman pada tuhan), Marroha (hati nurani yang baik), dan MarBisuk (cerdas dan bijak) itu, ialah Politeknik Informatika Del yang sejak 2013 telah bertransformasi menjadi Institut Teknologi (IT) Del di Laguboti, Sumatera Utara.

Perguruan tinggi itu menurut Devi yang kini jadi anggota Dewan Pembina Yayasan Del, awalnya didirikan untuk menyediakan jalur pendidikan formal bagi masyarakat setempat yang kala itu banyak dilanda kemiskinan. Politeknik Teknologi Del pun memberikan beasiswa penuh bagi mahasiswanya yang kurang mampu di perguruan tinggi berkonsep asrama tersebut.

"Tapi sekarang Institut Teknologi Del sudah memiliki 1.500 mahasiswa dan seluruh Indonesia. Pola subsidi masih bagi mahasiswa tidak mampu tetap kami jalankan, tetapi dengan seleksi yang ketat karena kami ingin yang disubsidi yang benar-benar serius ingin belajar," kata Devi di Jakarta, Selasa (22/10).

Kini, IT Del yang berdiri diatas lahan seluas 13 hektare di Laguboti telah memiliki 3 fakultas, yaitu Fakultas Teknik Informatika dan Elektro, Fakultas Bioteknologi, serta Fakultas Teknik Industri.

Baca juga : Banyak Harapan Pendidikan Disematkan ke Nadiem

Bukan hanya untuk perguruan tinggi saja, Yayasan Del juga mendirikan Sekolah Noah di kawasan Kalisari, Jakarta Timur. Sekolah yang didirikan di bekas rumah milik Luhut Pandjaitan yang kini menjabat Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi itu di Kabinet Indonesia Maju itu, berdiri sejak 2007.

Sekolah Noah yang awalnya hanya dibuat untuk jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), kini telah memiliki jenjang hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Yayasan Del pun turut aktif memberikan beasiswa bagi siswa tak mampu yang belajar di sekolah Noah. Syaratnya, hanya lulus ujian masuk dan sesuai dengan kriteria pemberian beasiswa Yayasan Del.

Pada 2012, Yayasan Del melengkapinya dengan mendirikan SMA Unggul Del di Laguboti. SMA berkonsep asrama itu bahkan telah menjalin kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung dan tahun lalu meloloskan 47 dari 160 siswanya ke ITB.

"Salah satu tamatan SMA Unggulan Del bahkan bisa menjadi wakil wisuadawan ITB yang membacakan testimoni saat wisuda ITB. Siswa di SMA Unggulan Del berasal dari berbagai daerah, bahkan hingga Papua. Kami pun juga memberikan beasiswa bagi siswa yang tak mampu," ujar Devi.

Yayasan Del yang berarti selangkah lebih depan itu bukan hanya bergerak di bidang pendidikan saja. Sesuai statutanya yang menyebut yayasan tersebut bergerak di bidang sosial-budaya, pendidikan, dan kemanusiaan.

Yayasan Del juga mendirikan rumah aman bagi korban perdagangan manusia dan kekerasan seksual, terutama anak-anak di Batam, Kepulauan Riau. Rumah aman itu diberi nama Rumah Faye.

Didirkan pada 2013, Tumah Faye juga bergerak pada bidang advokasi dan sosialisasi untuk mengunggah kepedulian masyarakat terhadap perdagangaj anak dan menyadarkan anak-anak soal bahayanya terjerumus dalam kejahatan perdagangan manusia dan prostitusi

"Itu yang mengelola sekarang adalah cucu pertama saya. Tadinya kami subsidi penuh Rumah Faye, tapi sekarang dunia usaha sudah mulai ikut membantu. Misalnya toko minuman, dari sekian persen penjualan diserahkan ke Rumah Faye, kemudian juga penyuplai popcorn di bioskop juga menyumbangkan sekian persen dari penjualan,"ungkap Devi.

Rumah Faye juga berfokus pada upaya pemulihan dan mentoring terhadap korban perdagangan manusia dan prostitusi.

Sementara di bidang sosial-budaya, Yayasan Del juga mengelola Tobatenun yang fokus pada upaya revitalisasi dan pelestarian tradisi tekstil.

Baca juga : PKS Ragukan Nadiem Bisa Urus Pendidikan

Devi menjelaskan, Tobatenun didirikan karena tradisi tenun menghadapi masalah hilangnya pengetahuan bertenun, ancaman kepunahan tenun, dan eksploitasi penenun.

Pada September 2018, Tobatenun menggelar sebuah pameran di Museum Tekstil Jakarta. Pameran dikemas dengan alur bercerita dilengkapi instalasi sentuhan kreatif. Dalam pameran juga ditegaskan 5 makna sekaligus peran ulos dalam kehidupan manusia Batak, yakni fase lahir, dinamika kehidupan, pernikahan hingga kematian.

Dalam hal budaya, Yayasan Del, juga akan menyelenggarakan kompetisi paduan suara anak bertajuk Senandung Untuk Bumi di Jakarta, 26 Oktober nanti. Kompetisi itu akan diikuti oleh 31 grup paduan suara yang akan tampil dalam 2 kategori lomba, yaitu children's choir dan folklore.

Ketua Panitia Kompetisi Paduan Suara Anak Senandung Untuk Bumi Intan Simanjuntak mengatakan, sesuai dengan temanya, paduan suara itu mengusung tema mencintai bumi. Karena itu, ia melarang seluruh peserta dan pengunjung tak membawa botol minum plastik di arena lomba.

"Ini sesuai dengan semangat yang diusung pemerintah dengan Gerakan Indonesia Bersih," ujarnya. (RO/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More