Selasa 22 Oktober 2019, 20:25 WIB

Guru Besar Unpad: Hoaks Tersebar karena Rendahnya Literasi

mediaindonesia.com | Humaniora
Guru Besar Unpad: Hoaks Tersebar karena Rendahnya Literasi

Dok.Unpad
Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Deddy Mulyana

 

PENANDATANGANAN nota kesepemahaman antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) berlangsung di Jakarta, Selasa (22/10). Tujuan kerja sama itu adalah untuk meminimalisir bahaya berita palsu (hoaks) yang beredar di media sosial terutama yang berkaitan dengan kesehatan.

Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Deddy Mulyana mengatakan bahwa langkah BPOM tersebut merupakan awal yang baik dalam mengedukasi masyarakat untuk memiliki daya kritis terhadap berita apapun. Efektivitasnya cukup luas dan tersebar ke Indonesia. Meski demikian, dibutuhkan reformasi pendidikan agar masyarakat memiliki kesadaran baru dalam menyaring berita.

“Menyebarkan atau mempercayai hoaks itu adalah karakter. Untuk merubahnya,harus dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Kata kuncinya adalah literasi. Dalam sebuah penelitian, orang Indonesia hanya membaca 27 halaman per tahun dengan ranking minat baca masyarakat kita menempati urutan ke 60 di dunia,” papar Deddy.

Deddy menambahkan, karakter masyarakat yang suka menyebar hoaks bisa dilihat dari sudut pandang komunikasi budaya. Menurutnya, masyarakat Indonesia senang bercerita dan bersifat kolektivisme atau cenderung hidup berkelompok daripada individu.

“Media sosial adalah perpanjangan tangan panca indera manusia Indonesia yang memang suka bercerita. Namun kebiasaan ini diperparah dengan rendahnya literasi. Kita lebih suka menonton televisi atau mendengar radio, padahal dua media ini membuat orang menjadi pasif. Beda dengan membaca yang harus dicerna sehingga membuat orang menjadi kritis,” tutur penulis buku Pengantar Komunikasi Lintas Budaya : Menerobos Era Digital dengan Sukses itu.

Deddy menyarankan ke depannya edukasi tidak bersifat ad hoc namun lebih kepada membangun kesadaran baru yang bersifat jangka panjang.

“Dimulai dari keluarga, karena percaya berita palsu berkaitan dengan mentalitas manusia. Belajar dari Jepang, perilaku mereka sehari-hari merupakan hasil dari pendidikan karakter dalam keluarga. Ini yang harus kita contoh,” ungkapnya.

Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugoro di tempat terpisah mengungkapkan bahwa hoaks tidak saja menjadi permasalahan di Indonesia namun juga di dunia. Setiap bulan ada 60–100 hoaks yang tercatata oleh Mafindo dengan tema paling besar adalah politik, disusul agama dan kesehatan.

“Pada tahun 2018, ada enam persen hoaks yang terkait isu obat dan kesehatan. Meski jumlahnya kecil, namun tidak bisa dianggap ringan. Karena hoaks-hoaks terkait kesehatan bisa menimbulkan kepanikan di masyarakat,” katanya.

Septiaji mencontohkan seperti mie instan yang dicampur coklat bisa berbahaya bagi kesehatan, permen yang mengandung narkoba, makanan kaleng yang terjangkiti virus HIV dan sebagainya. Hoaks ini sudah beredar luas di masyarakat dan dipercaya sebagai sebuah kebenaran.

“Kami memiliki 500 relawan dari 17 kota, termasuk di antarnya adalah alumni dari BPOM. Bersama-sama kita meredam hoaks dan mengedukasi publik. Kolaborasi ini bisa memperkuat ekosistem kita yang memang sudah terbaik di Asia,” jelasnya. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More