Kamis 24 Oktober 2019, 08:30 WIB

Tiga WNI di Singapura Didakwa Biayai Terorisme

Fajar Nugraha | Internasional
Tiga WNI di Singapura Didakwa Biayai Terorisme

Dok MI
Ilustrasi

 

TIGA warga negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya ditahan di bawah Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA) Singapura, Rabu (23/10) didakwa dengan pendanaan terorisme.

Perempuan berinisial AA, 33, RH, 36, dan T, 31, diperintahkan untuk ditahan, September lalu. Ketiganya diselidiki Departemen Keamanan Dalam Negeri (ISD) atas dugaan mendukung kelompok teroris Islamic State (IS).

Mereka juga memiliki kaitan dengan kelompok yang berbasis di Indonesia, Jemaah Anshorut Daulah (JAD), yang berafiliasi dengan IS.

“Sebelum penangkapan mereka, ketiganya bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Singapura selama enam hingga 13 tahun,” kata Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA) dalam siaran pers, seperti dikutip Channel News Asia, Kamis (24/10).

Setelah penyelidikan oleh Departemen Urusan Komersial (CAD) dari Kepolisian Singapura, ketiganya dituduh mengumpulkan dan memberikan uang pada beberapa kesempatan kepada individu di Indonesia antara September 2018 dan Juli 2019.

Baca juga: TikTok Hapus Video Propaganda Kelompok Teroris IS

"Mereka memiliki alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa dana ini akan digunakan untuk memfasilitasi tindakan teroris di luar negeri," kata MHA.

RH mengumpulkan total S$100 atau Rp1 juta pada dua kesempatan antara Maret 2019 dan April 2019 dan memberikan total S$140 atau sekitar Rp1,4 juta pada dua kesempatan selama periode yang sama.

Antara Februari 2019 dan Juli 2019, AA menyediakan total S$130 pada lima kesempatan.

“T menyediakan total Rp13 juta (sekitar S$1.216) pada lima kesempatan antara September 2018 dan Mei 2019,” kata MHA.

Jika terbukti bersalah, perintah penahanan mereka akan dibatalkan dan mereka akan menjalani hukuman penjara yang dijatuhkan pengadilan.

“Tindakan mengumpulkan dan atau menyediakan uang untuk mendukung tujuan teroris, berapa pun jumlahnya, merupakan pelanggaran serius di bawah Undang-Undang Terorisme (Penindasan Pembiayaan),” kata pihak berwenang.

"Terorisme dan pendanaannya merupakan ancaman besar bagi keamanan domestik dan internasional, dan tindakan global diperlukan untuk mencabut pendanaan dan material kelompok-kelompok teroris," tegas MHA.

"Singapura adalah bagian dari upaya global ini dan sangat berkomitmen untuk memerangi pendanaan terorisme, terlepas dari apakah uang itu digunakan untuk memfasilitasi tindakan teroris secara lokal atau luar negeri,” imbuh keterangan MHA.

"Anggota masyarakat diingatkan untuk tidak mengirimkan uang, dalam jumlah berapa pun, atau memberikan dukungan apa pun melalui penyediaan layanan, pasokan, atau bahan apa pun kepada organisasi teroris, atau untuk memfasilitasi atau melakukan tindakan teroris apa pun,” pungkas mereka. (Medcom/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More