Kamis 24 Oktober 2019, 04:00 WIB

Potensi Pasar Non BPJS Masih Tinggi

Hilda Julaika | Ekonomi
Potensi Pasar Non BPJS Masih Tinggi

ANTARA FOTO/Saptono/Foc
KOLABORASI CIGNA -APARI

 

Potensi pasar asuransi kesehatan di luar program BPJS untuk individu kalangan masyarakat kelas menengah atas cukup tinggi. Hal itu perlu digarap serius oleh ahli manajemen asuransi dan broker.

"Ini porsinya perusahaan asuransi swasta untuk menangkap pasar di luar program BPJS pemerintah. Pasarnya sangat besar, sekitar 20% atau 53 juta orang di Indonesia," tutur Ketua Umum Perkumpulan Ahli Manajemen Jaminan dan Asuransi Kesehatan Indonesia (Pamjaki) Rosa Christiana Ginting di sela-sela seminar Asuransi Kesehatan Global bagi individu untuk mendukung Keberlanjutan Layanan Kesehatan yang digelar Cigna Indonesia dan Asosiasi Ahli Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APARI) di Jakarta.

Rosa mengatakan, banyak masyarakat Indonesia yang ingin memperoleh pelayanan kesehatan yang nyaman, tidak ingin antre, enggan menunggu lama, dan bisa berobat di mana saja di luar negeri.

"Mereka memiliki dana lebih untuk memiliki produk asuransi yang bisa memenuhi itu semua. Dan produk itu ada di Cigna Indonesia," ujar dia.

Menurut Rosa, market ini bisa ditangkap para ahli manajemen asuransi untuk bisa merancang produk yang baik dan terjangkau.

President Director & CEO Cigna Indonesia Phil Reynolds mengatakan, dari sekitar 1,5 juta nasabah Cigna, baru sekitar 1.000 orang yang mengikuti proteksi kesehatan global. Padahal, potensinya masih sangat besar. Produk itu hadir sebagai bagian dari upaya meningkatkan penetrasi asuransi di Indonesia yang masih minim.

Phil menambahkan, dalam seminar itu, pihaknya juga berupaya meningkatkan inklusi asuransi di Indonesia, sebagai bagian dari upaya meningkatkan penetrasi proteksi di Tanah Air. Makanya, tambah Phil, pihaknya antusias bekerja sama dengan Apari.

Dijelaskannya, sejak meluncurkan produk Global Individual Private Medical Insurance pada 2017, Cigna telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan pialang asuransi di Indonesia.

"Kolaborasi ini memungkinkan kami mendukung APARI dalam menyediakan salah satu sesi edukasi terbaik untuk program Continous Professional Development (CPD) yang mereka miliki. Akhirnya, dapat mendorong komitmen kami dan APARI dalam membantu pemerintah meningkatkan inklusi asuransi di Indonesia," papar Phil Reynolds.

Peran pialang

Sementara itu, Ketua Umum APARI Bambang Suseno menjelaskan sebanyak 120 pialang dari 90 perusahaan pialang asuransi dan pialang reasuransi di Indonesia hadir dalam seminar itu. Kehadiran mereka juga sebagai bagian dari proses pelatihan dan sertifikasi yang harus mereka ikuti.

Pialang juga memiliki peran meningkatkan inklusi asuransi sebagai upaya meningkatkan penetrasi asuransi di Tanah Air. Apalagi potensi market yang bisa digarap para pialang sangat besar. Saat ini, dari total penjualan produk asuransi ke masyarakat, baru 35% yang dijual melalui pialang asuransi, sisanya 65% penjualan langsung ke perusahaan asuransi.

"Masih banyak peluang bagi pialang untuk mengembangkan sayapnya, sebab ceruk pasar 65% itu lumayan besar. Apalagi, perusahaan-perusahaan asuransi lebih senang deal dengan pialang, karena mereka tidak perlu sosialisasi dari awal, sebab para pialang sudah paham betul tentang proteksi," tambahnya. (E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More