Rabu 23 Oktober 2019, 16:10 WIB

Wajah Garang Kabinet Indonesia Maju

Widhoroso | Politik dan Hukum
Wajah Garang Kabinet Indonesia Maju

MI/Ramdani
Presiden Joko Widodo didampingi Wapres Ma'ruf Amin berfoto bersama jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju yang baru dilantik.

 

SUSUNAN Kabinet Indonesia Maju yang diumumkan Presiden Joko Widodo dinilai tidak terlalu mengejutkan.  Pemanggilan tokoh-tokoh selama dua hari sebelum pengumuman membuat publik sudah bisa menerka siapa saja yang akan masuk dalam kabinet.

"Tidak ada kejutan yang berarti atas personalia kabinet tersebut karena selama dua hari sebelumnya publik sudah dibuat terkejut-kejut atas keputusan Presiden," ungkap pengamat politik yang juga penggiat media sosial Rudi S Kamri, Rabu (23/10).

Kesan yang Rudi tangkap secara keseluruhan, Kabinet Indonesia Maju ini berwajah keras dan garang. "Penunjukan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan (Menhan), Fachrul Razi sebagai Menteri Agama (Menag) dan Tito Karnavian sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) cukup mengesankan pragmatisme Presiden Jokowi dalam menyusun tim kerjanya," ucapnya.

Rudi menilai, ada aroma kuat Presiden Jokowi ingin mengamankan program kerjanya tanpa pusing diganggu oleh kelompok- kelompok radikal yang berpotensi merongrong jalannya pemerintahan. "Dengan 'conductor' dari Mahfud MD sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), diharapkan potensi gangguan dari kelompok destruktif tersebut bisa dijinakkan dengan mudah," jelasnya.

Menurut Rudi, sebagai Menko Polhukam, Mahfud MD dituntut bisa menjadi  konduktor yang baik dalam mengkoordinasikan kebijakan dengan jajarannya di bidang politik, hukum dan keamanan. Menurut Rudi,  pekerjaan rumah terberat Mahfud MD adalah ‘meredam’  sepak terjang Prabowo yang berpotensi besar melakukan politik keras dan 'single fighter' saat menjalankan operasionalisasi strategi pertahanan negara. "Rekam jejak Prabowo saat menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus bisa dijadikan referensi," terang dia.

Menurutnya, aroma keras wajah Kabinet Indonesia Maju itu bisa jadi akan menimbulkan resistensi bagi geopolitik ASEAN dan global serta berpotensi direspons negatif oleh pasar. “Satu-satunya jalan untuk melembutkan wajah Kabinet Indonesia Maju, ialah Presiden Jokowi harus berani melakukan balancing (penyeimbangan) di bidang lain,” jelas Rudi.

Salah satu pemyeimbangan yang bisa dilakukan, jelas Rudi, adalah dengan mengangkat orang sipil dan bukan TNI atau Polri untuk menempati posisi Kepala Badan Intelejen Negara (BIN). Menurutnya, Presiden Jokowi sebaiknya menempatkan figur sipil yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas yang tinggi di bidang intelijen serta berpengalaman luas dalam melakukan pendekatan lunak (soft approach) dalam mengoperasikan mesin intelijen untuk memimpin BIN.

“Nama Suhendra Hadikuntono saya nilai tepat untuk menempati posisi Kepala BIN. Ia merupakan figur sipil yang menonjol di bidang intelijen saat ini,” jelasnya.  (RO/R-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More