Rabu 23 Oktober 2019, 18:27 WIB

Sumber Daya Manusia Corong Utama Hadapi Digitalisasi

mediaindonesia.com | Ekonomi
Sumber Daya Manusia Corong Utama Hadapi Digitalisasi

Istimewa
Diskusi tentang 'Digital Economy Talent Gap and Workforce Challenges' di Sinar Mas Land Plaza, Jakarta, Rabu (23/10).

 

PENINGKATAN sumber daya manusia (SDM) memegang peranan penting dalam peralihan menuju era digitalisasi. Jika hal ini tidak dilakukan, seperti yang diucapkan mantan Menteri Ketenagakerjaan dan Tansmigrasi, Hanif Dhakiri,  sebanyak 56% penduduk Indonesia akan kehilangan pekerjannya. 

Namun, semuanya akan tertolong karena era digitalisasi akan menciptakan lapangan kerja baru melalui inovasi dan kreativitas. 

Era digitalisasi mengakibatkan berubahnya cara berpikir manusia, hidup, dan berhubungan satu dengan yang lain. Perubahan yang signifikan pada bidang teknologi, menyebabkan perubahan juga pada bidang lain seperti ekonomi, sosial, dan politik. Tentu hal ini juga akan memengaruhi perubahan kebutuhan SDM.

Berdasarkan riset Mckinsey, guna mencapai sasaran tersebut, Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja yang 'melek' digital, dengan komposisi 30% di industri manufaktur dan 70% di industri penunjangnya.

Jika ini terealisasi, bukan tidak mungkin jika Indonesia bisa menambah pemasukan ekonomi hingga US$150 miliar.

Pelaku usaha atau perusahaan menjadi subjek yang paling penting dalam era digitalisi khususnya dalam upaya peningkatan kompetensi SDM. Langkah ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, yang menginginkan pembangunan nasional lewat pembangunan SDM yang berkualitas.

Peran human resources departement (HRD) di setiap perusahaan harus menjadi yang terdepan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menghadapi tantangan dari industri digitalisasi.

Untuk itu, Sinar Mas dan PT Oriente Mas Sejahtera (Finmas) menggelar diskusi tentang 'Digital Economy Talent Gap and Workforce Challenges' yang diselenggarakan di Sinar Mas Land Plaza, Jakarta, Rabu (23/10). Dalam acara itu hadir beberapa pembicara dari beberapa perusahaan yang membahas dampak dan peluang digitalisasi. 

Sylvano Damanik, Vice Chairman Korn Ferry Hay Group Indonesia, mengatakan jika Indonesia tidak melakukan apa-apa  dalam menghadapi masalah ini, akan terdampak kepada 18 juta pekerja atau US$442,6 miliar di Indonesia pada 2030. 

“Ini hampir semua terjadi di seluruh negara,” ujarnya. 

Doni Priliandi selaku CEO Happy5 mengimbuhkan, kesalahan transformasi digital, bukan karena  digital, tapi transformasi perilaku. Ini peran pemimpin atau CEO sangat diperlukan di perusahaannya, bukan hanya peran human resources. 

“Jadi kegagalan transformasi digital bukan karena digitalnya, tetapi orang-orangnya yang tidak bisa beradaptasi,” terangnya.

Memanfaatkan Digitalisasi

Dalam acara tersebut, juga dibahas tentang perusahaan yang beralih ke dunia digital. Hal ini karena digitalisasi bisa dipandang sebagai peluang. Dua diantara perusahaan yang menyadari hal tersebut adalah PT Pegadaian dan Sinar Mas.

Produk digital PT Pegadaian

BUMN PT Pegadaian tersebut akan mengeluarkan produk-produk secara digital. Produk-produk akan dikeluarkan lewat aplikasi dan website.

“Kami akan masuk ke bisnis mikro untuk pinjaman Rp25 juta ke bawah. Kami akan masuk ke digitall lending. Ini merupakan cara kami menghadapi atau memanfaatkan digitalisasi,” kata Moh. Edi Isdwiarto, Direktur SDM dan Hukum PT Pegadaian. 

Dalam era digitalisasi ini, lahirnya inovasi-inovasi terbaru berbasis teknologi semakin tak terbendung, tak terkecuali dalam bidang keuangan atau yang biasa disebut financial technology (fintech).

Sebagai salah satu perusahaan korporasi terbesar di Indonesia, Sinar Mas mampu melihat peluang tersebut. Sinar Mas mampu memanfaatkan era digitalisasi dengan berinovasi membangun fintech Finmad (PT Oriente Mas Sejahtera), gabungan dari perusahaan multi nasional Oriente. 

“Finmas adalah perusahaan fintech yang fokus peada kaum menengah ke bawah dan milenial. Tahun ini Finmas memokuskan peningkatan literasi keuangan di seluruh Indonesia,” kata Rainer Emanuel, Head of PR Finmas. 

Dia mengatakan, geliat sektor fintech di Indonesia telah merambah ke berbagai sektor, seperti startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), uang elektronik, dan lain-lain.

Era digital telah menggiring masyarakat kepada berbagai hal yang praktis dan tanpa batas. Semua transaksi keuangan dilakukan melalui gadget seperti melakukan transfer dana, berinvestasi, hingga memperoleh pembiayaan. 

Fintech di Indonesia tercatat tumbuh signifikan hingga pertengahan tahun ini. Dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Juli 2019, perusahaan fintech yang sudah terdaftar atau berizin mencapai 127 dan 8 di antaranya merupakan fintech syariah. Sebanyak 88 perusahaan didanai perusahaan dalam negeri dan 39 didanai pihak asing. 

Jumlah akumulasi rekening leader mencapai 518.640 entitas atau meningkat 149,94% (year to date). Sementara rekening borrower tercatat mencapai 11.415.849 entitas meningkat 161,86% (ytd). Akumulasi jumlah outstanding pinjaman mencapai Rp7, 83 triliun, meningkat 73,11% (ytd). (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More