Rabu 23 Oktober 2019, 09:30 WIB

Pemuda Wajib Lawan Kemalasan

Golda Eksa | Politik dan Hukum
Pemuda Wajib Lawan Kemalasan

MI/Golda Eksa
Komandan Komando Resor Militer 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Zainuddin

 

KOMANDAN Komando Resor Militer 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Zainuddin mengingatkan seluruh pemuda selaku generasi penerus untuk berjuang keras membangun kebersamaan.

Ia mengajak para pemuda berpikir ke depan melawan kemalasan, melawan narkoba, melawan pergaulan bebas, radikalisme, serta berjuang keras untuk mengejar percepatan teknologi di era revolusi industri 4.0.

"Kebersamaan semua elemen itu bukan hanya slogan, melainkan juga kita wajib mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Zainuddin seusai acara Dialog Kebangsaan dan Silaturahim Angkatan Muda Muhammadiyah Kota Malang, di Gedung PDM Kota Malang, Jawa Timur, Senin (21/10) malam.

Saat berbincang dengan Media Indonesia, Zainuddin menuturkan bahwa pertikaian dan kebencian sedianya dapat dihindari. Sikap itu penting agar harapan menuju Indonesia maju segera terealisasi.

"Anak bangsa perlu berpikir ke depan bagaimana menghadapi era sekarang, era revolusi industri 4.0. Jangan habiskan energi hanya untuk membahas hal yang tidak penting, tapi bagaimana membahas Indonesia ke depan yang berkemajuan."

Di era revolusi industri, imbuh Zainuddin, pemuda dituntut untuk mampu menguasai teknologi, disiplin, dan memiliki keahlian. Pemuda juga harus bisa beradaptasi dan melakukan akselerasi untuk membangun kebersamaan.

Di kesempatan terpisah, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Syaiful Bakhri menegaskan bahwa Islam agama damai dan tidak mengajarkan radikalisme, bahkan menentangnya.

"Radikalisme itu sebuah musuh ideologi. Kalau dalam agama tentu ada mazhab, tapi Islam yang saya pelajari tidak pernah mengajarkan radikalisme, bahkan menentang. Islam itu agama damai, Islam itu agama penuh rahmat bagi seluruh semesta. Jadi, pengeboman dan segala aksi terorisme itu bukan Islam, melainkan ajaran yang keliru penganut Islam. Mereka selama ini membajak Islam untuk pembenaran aksinya," tutur Syaiful dalam keterangan tertulis di Jakarta, kemarin.   

Menurut Syaiful, ada dua isu lama yang berkembang terkait dengan radikalisme. Pertama, radikal yang berkaitan dengan ideologi di zaman Orde Baru (Orba) yang disebut dengan ideologi ekstrem kiri dan kanan.

Ketika itu terorisme belum berkembang, seperti sekarang. Ekstrem atau radikal kanan meliputi aliran dalam agama, khususnya Islam, sedangkan ekstrem kiri, yaitu komunis. 

Pada masa Orba, perbincangan mengenai komunis tidak pernah ada respons sehingga seolah-olah telah berakhir. Alhasil, saat ini isu radikal yang menonjol ialah ekstrem kanan, yang ironisnya ditujukan pada umat Islam. (Gol/Ant/P-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More