Rabu 23 Oktober 2019, 07:50 WIB

Publik Minta Kabinet Bikin Lompatan Besar

M Iqbal Al Machmudi | Politik dan Hukum
Publik Minta Kabinet Bikin Lompatan Besar

MI/ROMMY PUJIANTO
Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan.

 

SEJUMLAH calon menteri muka baru yang datang ke Istana Negara, Senin (21/10) dan Selasa (22/10), baik dari kalangan profesional maupun partai politik dinilai menimbulkan persepsi positif bagi publik.

"Secara umum beberapa nama yang masuk disambut cukup positif terutama dari kalangan nonpartai seperti Nadiem Makarim, Wishnutama, dan Bahlil Lahadalia," Kata Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan, kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Menurut Djayadi, orang-orang yang yang dipanggil tersebut cocok dengan semangat zaman ke depan. Presiden Joko Widodo menginginkan program pemerintah ke depan dekat dengan dunia yang didominasi kaum milenial, ekonomi kreatif, kekuat-an informasi, dan digitalisasi di segala sektor.

"Mereka yang baru-baru itu sudah memberikan bukti kreativitas dan inovasi yang sangat diperlukan sebagai lompatan ke depan sebagaimana diinginkan Presiden," lanjut Djayadi.

Akan tetapi, Djayadi menyayangkan Presiden kurang menampilkan sosok perempuan. Diketahui, baru tiga perempuan yang dipanggil Presiden Jokowi, yaitu Sri Mulyani, Ida Fauziah, dan Siti Nurbaya, dari 32 calon menteri yang dipanggil ke Istana Negara.

"Sudah benar usia para menteri itu gabungan muda dengan senior. Ada profesional, akademisi, dan partai politik. Hanya, yang perempuan baru tiga," ujar Djayadi.

Reaksi positif terhadap sosok calon menteri kabinet Jokowi-Amin juga ditunjukan para pelaku pasar saham di Bursa Efek Indonesia, kemarin. 

Indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau sejak pembukaan perdagangan pada pukul 09.00 WIB. IHSG melanjutkan penguatan dengan naik tipis 13,22 poin atau 0,21% ke level 6.212,17 jika dibandingkan dengan penutupan sehari sebelumnya di posisi 6.204,41. Adapun indeks saham LQ45 menguat 0,23% ke posisi 977,98. Volume transaksi sekitar 62,21 juta lembar saham dengan nilai sekitar Rp2,2 triliun.

Analis Bina Artha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, menilai pasar saham mengapresiasi pro-ses penetapan menteri. Sejumlah calon menteri yang dipanggil menghadap Presiden di Istana menunjukkan performa positif.

"Calon menteri seperti Mahfud MD, Nadiem Makarim, Prabowo Subianto, dan Erick Thohir direspons positif oleh pasar. Bagi saya, yang penting pasar meng-apresiasi penetapan menteri secara kondusif," ungkap Nafan.

 

Rekam jejak

Kepala Pusat Penelitian LIPI, Syamsuddin Haris, memberikan catatan kritis terhadap kondisi politik di Indonesia yang kini justru mengancam keberlangsungan demokrasi. Menyeberangnya partai oposisi ke koalisi pemerintah menjadi salah satu faktor.

"Presiden itu mendapat mandat melalui pemilu. Namanya mandat, ya harus dijalani. Apa yang diinginkan publik? Tidak kemudian mentang-mentang itu hak prerogatif presiden kemudian sewenang-wenang memilih siapa saja," tutur Syamsuddin dalam diskusi bertajuk Mencermati Kabinet Jokowi Jilid II di Jakarta, kemarin.

Dengan bergabungnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ke pemerintahan, lanjut Syamsuddin, otomatis koalisi pendukung Jokowi semakin membengkak.

"Model negara integralistik adalah model negara kekeluargaan. Itu sangat mengancam demokrasi. Mestinya Pak Jokowi tidak mengajak Prabowo ke kabinet. Prabowo juga seharusnya menolak ajakan Presiden," kata Syamsuddin.

Pertimbangan dasar lainnya yang bisa menjadi tolok ukur  bagi Presiden Jokowi ialah soal rekam jejak.

"Konsekuensi logisnya ialah calon menteri seharusnya tokoh bersih, bebas dari korupsi, bebas dari pelanggaran HAM, bebas dari tindakan persekusi, intoleransi, diskriminasi, dan sebagainya," tukas Syamsuddin.  (Van/Nur/Mal/Mir/X-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More