Rabu 23 Oktober 2019, 08:00 WIB

Piknik Murah Meriah di Taman-Taman Jakarta

mediaindonesia.com | Megapolitan
Piknik Murah Meriah di Taman-Taman Jakarta

Dok Pemda DKI Jakarta
Taman Tebet Timur (Taman Honda), Jakarta Selatan.

 

ANGGI, 28, menggelar sehelai tikar pada rumput hijau yang terbentang luas di hadapannya. Tikar digelar tepat di sisi sebuah pohon rindang yang meneduhi dia dan suaminya di Minggu (20/10) pagi yang terik itu.

Karyawan swasta asal Depok, Jawa Barat, itu sengaja datang ke Taman Ayodia di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk berekreasi menghabiskan waktu akhir pekan bersama suami. Ia jenuh dengan ingar bingar pusat perbelanjaan dan mal serta kafe. “Akhirnya, saya pilih pergi ke taman. Senang sih, gratis. Mumpung tak begitu macet pada Minggu,” ucapnya.

Menurutnya, taman-taman di Jakarta sudah cukup terpelihara dan tertata apik. Maka itu, taman jadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi warga di akhir pekan. Tak hanya buat rekreasi, tapi juga buat sarana belajar.

Menurutnya, taman harus dirawat bersama dan ditata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama masyarakat. Pasalnya, taman terbukti menjadi tempat alternatif bagi warga untuk melepas penat.

Satu saran yang dia haturkan ialah agar lebih banyak lagi pohon-pohon rindang di taman. Agar saat cuaca cukup terik, warga yang ingin piknik ke taman tidak perlu bersusah payah mencari tempat berteduh.

Ia juga berharap banyak sarana bermain olah fisik bagi semua umur agar selain bisa untuk bercengkerama, taman juga bisa untuk tempat olahraga.

Sama halnya pula dengan Abdul Rozak, 32, yang menjadikan taman sebagai tempat berolahraga. Lajang asal Tasikmalaya yang menyewa kos di Tebet, Jakarta Selatan, itu mengaku taman jadi lokasi favorit untuk olahraga, terutama Taman Suropati dan Taman Tebet. “Senang karena hawanya sejuk dan tak panas. Lintasannya pun bagus, tapi perlu diperbaiki,” ujarnya.

Namun, dia berharap Pemprov DKI dapat menata pedagang kaki lima (PKL) di taman. Keberadaan PKL harus ditata agar tak membuat taman kotor.

 

Didesain lebih variatif

Dua tahun menjabat Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan telah berhasil membangun 60 taman yang dinamakan taman maju bersama (TMB). Sebanyak tujuh TMB diresmikan tahun lalu dan tahun ini ditargetkan ada 53 TMB dengan anggaran Rp130 miliar, termasuk pula anggaran pembebasan lahan.

Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsitawati menjelaskan setiap pembangunan taman, Dinas Kehutanan membuat perencanaan dan desain yang matang dengan pelibatan warga sekitar lokasi.

“Dari awal sampai akhir kami melibatkan masyarakat. Kami melakukan FGD (focus group discussion) tiga tahap. Pertama, pemetaan sosialnya, kedua kami undang warga. Selanjutnya, kami diskusikan di suatu lokasi itu apa yang bisa kami akomodasi kegiatan ataupun fasilitas masyarakat,” tutur Suzi, di Jakarta, Senin (21/10).

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pembangunan TMB memiliki paradigma yang berbeda dengan taman-taman yang sudah ada seperti ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA). Meski keduanya sama-sama tergolong ruang terbuka hijau (RTH), TMB lebih variatif, tematik, disesuaikan dengan karakteristik dan luas lahan, serta dibangun secara kolaboratif bersama masyarakat.

TMB didominasi ruang terbuka dan berkonsep park jika dibandingkan dengan garden. Dengan konsep park, warga menjadi lebih leluasa untuk dapat bermain di atas rumput lantaran minimnya pembangunan di tengah taman.

Imbas dari minimnya pembangunan di tengah-tengah taman itu, TMB dapat pula berfungsi dari aspek ekologis sebagai resapan air untuk menjaga ketersediaan air tanah saat musim hujan dan musim kemarau. Salah satu contoh suksesnya pembangunan TMB ialah Taman Piknik di Jalan Manunggal II, Cipinang Melayu, Makassar, Jakarta Timur.

Suzi melanjutkan, pada 2020 Pemprov DKI menargetkan 51 lokasi TMB yang akan dibangun dengan dana Rp190 miliar. Peningkatan dana yang semakin besar untuk jumlah yang lebih sedikit itu karena ada peningkatan dari segi desain dan material yang akan digunakan.

Dalam membangun taman itu, pihaknya juga mengklasifikasikan ke dalam beberapa jenis taman agar sesuai kebutuhan masyarakat. “Jadi ada taman lingkungan untuk RW, ada taman di tingkat kelurahan, kecamatan, sampai tingkat kota. Jadi mudah dijangkau, tiap 500 meter warga dapat bertemu taman,” tuturnya.

Tidak hanya membangun taman, Suzi mengatakan, pihaknya merevitalisasi enam taman besar (taman grande). Enam taman grande yang direvitalisasi tahun ini, yaitu Taman Mataram, Taman Puring, Taman Tebet, Taman Tugu Tani, dan Taman Cilangkap.

Namun, Suzi menyebutkan, baru dua taman yang revitalisasinya berjalan, yakni Taman Tebet dan Taman Mataram. Adapun empat taman lainnya baru selesai proses perencanaannya dan akan dilelang ulang pada akhir tahun ini. Keempat taman itu ditargetkan selesai revitalisasi pada 2020.

“Kami berharap ke depan komunikasi serta keterlibatan masyarakat untuk membangun taman bisa lebih maksimal sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar Suzi.

 

Daya serap air
Dihubungi terpisah, pengamat perkotaan, Nirwono Joga, mengingatkan agar dalam membangun taman baik TMB maupun taman kota sebaiknya seminimal mungkin lahan tertutup beton. Hal itu penting untuk memaksimalkan daya serap air di dalam taman tersebut.

Untuk menambah RTH maksimal dan cepat, Pemprov DKI Jakarta juga perlu mempercepat dan mendata lahan-lahan tidur di seluruh wilayah. Lahan-lahan yang bisa dijadikan taman kota atau RTH, antara lain bidang pada garis sempadan sungai, sempadan jalan, median jalan pada pinggir rel, dan kolong tol.

Hal itu sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28/2015 tentang Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau. “RTH juga bisa dibangun dari lahan-lahan tidur yang tidak digunakan oleh pemiliknya. Selama pemiliknya tak membangun, pemda bisa mengubah lahan itu menjadi RTH,” tutup Nirwono.

Secara terpisah Direktur Indonesia Center for Environmental Law (ICEL) Henri Subagyo menjelaskan Pemprov DKI harus lebih gencar lagi membuat ruang terbuka hijau seperti taman. Pasalnya, hingga saat ini pencapaian ruang terbuka hijau (RTH) di DKI baru mencapai 9,9% dari target 30%.

Salah satu langkah yang bisa diambil ialah dengan memberikan insentif bagi pihak swasta dan warga yang sudah memiliki ruang hijau atau RTH. “Misalnya bagi warga yang memiliki taman di rumahnya agar tidak diubah jadi bangunan dapat diberikan keringanan pajak,” ucapnya. (Put/OL-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More