Senin 21 Oktober 2019, 19:05 WIB

Calon Perusuh Siapkan Monyet untuk Gagalkan Pelantikan Presiden

Candra Yuri Nuralam | Megapolitan
Calon Perusuh Siapkan Monyet untuk Gagalkan Pelantikan Presiden

MI/Tosiani
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono.

 

KABID Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, mengatakan, enam orang tersangka menyiapkan monyet untuk menggagalkan Pelantikan Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Minggu (20/10) kemarin. Mereka berencana melepas monyet di sekitar halaman Gedung DPR.

"Mereka akan melepaskan delapan ekor monyet yang bertujuan agar suasana gaduh," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (21/10).

Argo mengatakan, para tersangka berencana melepas delapan ekor monyet di halaman Gedung DPR dengan tujuan agar para monyet berkeliaran. Motifnya agar para tamu undangan ketakutan.

Argo mengatakan Polri berhasil mengendus rencana enam orang ini berdasarkan pengembangan kasus kepemilikan bom molotov oleh dosen IPB berinisial AB. Menurutnya, keenam orang ini masih berkaitan dengan kasus AB.

"Sudah dibeli delapan ekor monyet, tapi belum dipakai di sana (Gedung DPR)," terang Argo.

Lebih lanjut, Argo mengatakan bahwa para tersangka ini menggunakan sandi mirror untuk berkomunikasi satu sama lain dalam grup WhatsApp. Sandi ini dilakukan dengan cara membalik posisi alfabet seperti kaca dari posisi yang ada dalam papan ketik.


Baca juga: Jalur di Sekitar DPR Dibuka Bertahap


Selain mengincar Gedung DPR, para tersangka juga mengincar beberapa perusahaan ritel di sekitaran Senayan.

"Kemudian sepanjang aksi juga ada para tersangka berencana (melakukan) penjarahan toko-toko," tutur Argo.

Tersangka yang diamankan berinisial SH, E, FAB, RH, HRS, dan PSM. SH merupakan mantan pengacara. Dia ditangkap di Jatinegara, Jakarta Timur. SH bertugas mencari dana untuk membeli bahan ketapel.

Tersangka selanjutnya berinisial E yang ditangkap di lokasi yang sama dengan SH. E berstatus sebagai ibu rumah mempunyai peran sebagai pemberi tempat untuk melakukan pembuatan ketapel.

Berikutnya, tersangka FAB yang bekerja sebagai wiraswasta yang berperan sebagai penyedia dana sebesar Rp1,6 juta. Lalu tersangka RH yang berperan sebagai membuat ketapel. SH juga memesan ketapel kepada RH sebanyak 200 buah dengan harga Rp8 ribu per unit. Namun,
ketapel yang baru diterima hanya 22.

Terakhir, polisi menangkap tersangka HRS dan PSM. HRS ditangkap di Tebet, ia berperan memberikan dana sebesar Rp400 ribu. Kemudian, PSM ditangkap di Cilandak. PSM berusaha kabur melewati atap rumahnya ketika petugas kepolisian berusaha menangkapnya. Ia berperan memesan ketapel via online. (Medcom/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More