Senin 21 Oktober 2019, 08:20 WIB

Menaklukkan Masa Depan

Victor Yasadhana Direktur Pendidikan Yayasan Sukma | Opini
Menaklukkan Masa Depan

DOK-PRIBADI
Victor Yasadhana Direktur Pendidikan Yayasan Sukma

MASA depan merupakan misteri yang selalu coba ditaklukkan manusia. Keinginan menundukkannya terbukti menjadi alasan sekaligus energi yang membuat sejarah kehidupan terus bergerak melalui serangkaian penemuan, penciptaan, dan penaklukan. Namun, tantangan menyusun prediksi--yang dibarengi akurasi tentang masa depan--semakin tampak mustahil belakangan ini.

Jika ribuan tahun lalu, orang juga tak bisa membayangkan secara gamblang bagaimana ‘masa depan’. Pada saat yang sama, mereka juga tak memiliki keyakinan, masyarakat akan mengalami perubahan drastis. Sementara itu, di masa kini--saat teknologi bahkan memungkinkan menggantikan tubuh, otak, dan pikiran--manusia tak lagi bisa yakin akan apa pun, termasuk hal yang sebelumnya tampak tetap dan abadi (Harari: 2018).

Masa depan yang tak bisa diprediksi, semakin rentan, tak pasti, rumit, dan membingungkan. Situasi yang tampak lebih menggambarkan ‘kekacauan, turbulensi, dan kecepatan perubahan’ daripada kepastian, kemapanan, dan (mungkin) kejumudan. Dengan kata lain, situasi yang dikenal sebagai VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous) ini akan menjadi hal yang harus dilalui setiap hari dan menjadi sebuah kewajaran yang tak terelakkan; sebuah new normal (Lawrence: 2013).

Paradigma baru

Pendidikan dalam sejarah peradaban manusia, hampir selalu dipercaya sebagai salah satu alat yang mampu menyediakan bekal untuk menghadapi masa depan. Ia dipercaya menjadi upaya menetapkan respons sekaligus menghasilkan tindakan yang dianggap paling tepat menaklukkan masa depan. Benarkah? Apakah pendidikan kita saat ini telah mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi masa depan yang tak tentu dan penuh kejutan dan perubahan?     

Kemudian, apa yang harus diajarkan pada murid sebagai bekal mereka untuk bertahan menghadapi abad ke-21? Keterampilan apa yang perlu dimiliki untuk memahami apa yang terjadi di sekeliling kita dan memandu seseorang dalam menghadapi kerumitan hidup di masa depan? Agaknya pertanyaan-pertanyaan ini tidak begitu saja mudah dijawab bagi siapa pun yang bekerja dan memiliki komitmen di bidang pendidikan.

Praktik pendidikan di masa kini, belum sepenuhnya terbebas dari jebakan cara pandang masa lalu. Sekolah-sekolah kita masih saja sibuk dengan berbagai upaya bagaimana ‘menjejalkan informasi’ pada murid atau menyiapkan siswa untuk ‘proses pembelajaran yang akan diukur dalam serangkaian tes sebagai penanda keberhasilan masa depan mereka’.

Sebuah upaya yang tampak relevan di masa lalu, saat informasi ialah sebuah kemewahan yang langka. Namun, di saat informasi menjadi hal lumrah yang membanjiri kehidupan siapa pun dengan intensitas dan kapasitas yang tak terbayangkan, praktik pendidikan seperti itu menjadi kuno, dilupakan, dan sudah sepantasnya ditinggalkan.

Dalam dunia yang berubah cepat seperti saat ini, mencekoki­ mereka yang belajar dengan informasi ialah hal terakhir yang semestinya dipikirkan sekolah/guru. Mereka membutuhkan hal lebih penting; bagaimana mencerna banjir informasi, memilah yang penting. Lebih dari semua itu, kemampuan mengombinasikan setiap informasi dalam konteks dinamika dunia kehidupan yang luas (Harari: 2018).

Lalu, apa yang perlu disiapkan? Salah satu pendapat yang menarik menyatakan, bekal menghadapi masa depan ialah mengajarkan 4 Cs: critical thinking, communication, collaboration, dan creativity.

Keempat keterampilan di atas, bagian keterampilan yang disebut learning and innovation skills melengkapi keterampilan dasar terkait dengan penguasaan pengetahuan dasar (reading, writing, arithmetic)/traditional core skills, digital literacy skills, dan career and life skills, sampai merupakan basis ide bagi paradigma baru pendidikan (Trilling dan Fadel: 2009; Kivunja dalam International Journal of Higher Education Vol. 4 No. 1/2015; National Education Association/NEA, “Preparing 21st Century Students for a global Society”: 2018).

Keempat kompetensi itu, dipercaya--setidaknya sampai saat ini--sebagai salah satu jawaban terbaik yang bisa diupayakan dalam bidang pendidikan untuk menyambut masa depan. Kompetensi-kompetensi yang bisa merespons kebutuhan tantangan abad ke-21.

Bekal karakter

Yang juga patut ditimbang ialah bangun karakter yang diperlukan untuk menghadapi masa depan. Masa depan hanya bisa dihadapi karakter yang memungkinkan manusia mampu mengatasi tantangan keadaan yang sulit diprediksi, rentan, tak pasti, rumit, dan membingungkan.

Jika kompetensi dasar untuk mengatasi tantangan sehari-hari (foundational literacies; literacy, numeracy, cultural, scientific, etc), dan kompetensi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks (4 Cs) telah dapat dikembangkan. Masih ada hal yang perlu disiapkan; karakter yang memungkinkan kompetensi-kompetensi itu relevan dan manjur bagi masa depan. Karakter yang dapat dikembangkan dan benar-benar diperlukan untuk merespons perubahan lingkungan yang terjadi.

Dalam World Economic Forum, New Vision for Education (2015) antara lain diidentifikasi karakter yang perlu dikembangkan dalam menghadapi abad ke-21; keingintahuan (curiousity), inisiatif (initiative), kegigihan (persistence), keluwesan/kelenturan beradaptasi (adaptability). Lalu, kepemimpinan (leadership) dan kepekaan sosial-kultural (social and cultural awareness).

Menimbang karakter dapat dibentuk dan dilatihkan dalam proses pendidikan, keenam karakter itu semestinya menjadi agenda utama pendidikan saat ini. Masalahnya ialah bukan pekerjaan mudah mengajarkan dan melatihkan karakter-karakter yang dibutuhkan bagi masa depan. Namun, bukan juga merupakan upaya yang tak patut dicoba.     

Diperlukan kelenturan mental dan cadangan besar keseimbangan emosi untuk menghadapi ketidakpastian di masa depan. Kesediaan untuk terus belajar, kehati-hatian mencerna informasi, dan keberanian untuk berubah bisa membantu. Sekolah dan lembaga pendidikan harus menjadi institusi yang belajar (learning organization).

Dalam praktiknya, bisa dimulai dengan melakukan pembiasaan kecil dalam kelas/sekolah, seperti mendorong murid berani bertanya atau bahkan menebak. Menghargai perbedaan pendapat, memberi kebebasan untuk memilih, memastikan keterlibatan siswa dalam proyek-proyek kelas jangka panjang untuk memancing inisiatif.

Lalu, menempatkan kegagalan sebagai hal yang lumrah setiap upaya pencapaian. Menumbuhkan dan melatih empati, melatih pengelolaan emosi dan kemampuan melakukan negosiasi, mengidentifikasi dan mengelola perbedaan, menumbuhkan rasa hormat atas perbedaan yang terjadi.

Dalam jangka panjang, praktik-praktik kecil ini dapat menjadi bagian inheren dari budaya sekolah/institusi pendidikan. Secara teknis, semua praktik pendidikan di atas bisa diterapkan. Yang diperlukan ialah kerelaan untuk selalu belajar, yang pastinya akan memancing kreativitas dan inovasi. Hanya dengannya kita bisa punya peluang untuk menaklukkan masa depan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More