Senin 21 Oktober 2019, 08:10 WIB

Mendorong Literasi sejak Dini

Totok Amin Soefi janto Dosen, Peneliti Pendidikan dan Kebijakan Publik di Universitas Paramadina dan Universitas Negeri Jakarta | Opini
Mendorong Literasi sejak Dini

Duta
Ilustrasi

LITERASI kita tertinggal jauh, semua tahu itu. Namun, yang menarik, riset terbaru Bank Dunia menunjukkan bahwa ketertinggalan itu terjadi sejak usia dini. Ada angin segar dari pengamatan di lapangan selama hampir 10 tahun terakhir. Kita masih memiliki peluang untuk mengatasi ketertinggalan dengan menggenjot akses di jenjang pendidikan anak usia dini.

Studi jangka panjang dalam rentang waktu antara 2009 dan 2016 menunjukkan layanan prasekolah membuat sang anak sukses. Riset yang dilakukan oleh Haeil Jung dan Amer Hasan dari Bank Dunia di Indonesia tersebut mengungkapkan akses terhadap kelompok bermain berhasil mengurangi kesenjangan prestasi antara anak-anak dari keluarga kaya dan miskin.  

Peningkatan akses saja, menurut studi itu, dapat meningkatkan kompetensi sosial, perkembangan bahasa dan kognitif, serta kemampuan berkomunikasi dan pengetahuan umum.

Efek minor positif yang lain ialah kematangan emosi dan kesehatan fisik. Analisis biaya manfaatnya bisa digambarkan sebagai berikut: setiap US$1 yang diinvestasikan dalam program itu akan memberikan keuntungan US$8 seumur hidup. Bayangkan sebuah investasi yang nilainya naik delapan kali lipat!

Pekerjaan rumah untuk meningkatkan literasi di usia dini cukup banyak.  Pertama, kendala kemiskinan dan keterbatasan sumber daya. Kemiskinan membuat anak balita di keluarga miskin tidak mendapatkan bimbingan yang memadai.  

Keluarga miskin juga memiliki sumber daya yang terbatas untuk mengurus anaknya yang masih balita. Jangankan bahan bacaan, untuk makan yang bergizi saja mereka belum bisa. Sering kendalanya ialah pemahaman orangtua yang terbatas. Tak semua orangtua tahu cara membesarkan anak-anaknya.  

Istilah parenting buat kebanyakan orangtua masih asing--ini bahkan terjadi di kalangan menengah atas. Orangtua muda dari kelompok milenial banyak yang tidak siap mendidik anak-anaknya.

Kalau tidak percaya, tengok mereka yang berkunjung ke tempat publik, seperti pasar, taman, atau mal mereka sibuk dengan gawai masing-masing.  Si ibu sibuk ngerumpi dengan teman grup medsosnya, sedangkan sang ayah fokus memainkan gim online. Anak balitanya kelihatan bingung dan malah diberi gawai agar tidak mengganggu keasyikan mereka.  

Ada pemandangan yang menyedihkan di MRT dari Stasiun Dukuh Atas sampai Lebak Bulus. Sang ibu asyik bermain gawai sambil menggendong bayi yang sedang senang ngoceh, sedangkan sang ayah memelototi gawainya, tanpa memedulikan sang anak lelaki, yang usianya 1,5 tahun, duduk di sebelahnya.

Dari ekspresi sang anak yang duduk sambil melihat keluar jendela, tampak dia punya banyak pertanyaan, tetapi enggan menyela ayah dan ibunya yang sedang serius menatap layar telepon pintarnya. Keluarga miskin berbeda lagi bentuk pengalihan perhatiannya, bisa tayangan sinetron di televisi atau tuntutan hidup yang memaksa mereka fokus ke pekerjaan berdagang, bertani, melaut, atau mengurus kebutuhan rumah tangganya.

Pemandangan itu banyak ditemui di negara kita hari-hari ini.  Orangtua muda yang tidak peduli atau tidak tahu cara bercengkerama dengan anak-anaknya yang masih balita.

Anak balita yang masuk kategori usia PAUD dan TK, justru di masa emasnya. Jejaring saraf di otaknya sedang hebat-hebatnya berkembang.  
Orang dewasa di sekitarnya harus sigap merangsang pertumbuhan saraf yang identik dengan kapasitas untuk menyerap, mengolah, dan mengembangkan kompetensi anak-anak itu kelak di kemudian hari.

Korelasi positif
 
Studi Bank Dunia pada 2013 menemukan korelasi positif antara orangtua dan tingkat pengetahuan serta kemampuan pengasuhan anak yang lebih tinggi--di luar pendapatan dan pendidikan--memberikan hasil yang lebih baik untuk anak-anak.

Orangtua dengan tingkat kehangatan dan dedikasi yang lebih tinggi juga tingkat permusuhan yang lebih rendah, umumnya memiliki anak tanpa masalah perilaku. Lalu, kesehatan yang lebih baik, peningkatan kematangan emosi, keterampilan komunikasi yang lebih tinggi, dan perkembangan kognitif yang kuat.

Kota atau desa yang tidak memiliki fasilitas atau lembaga kelompok bermain akan tertinggal dalam menangani literasi anak usia dini. Sebelum lebih jauh salah kaprahnya, perlu ditegaskan bahwa literasi usia dini tidak sama dengan keterampilan calistung (baca-tulis-hitung).  

Rosfita Roesli dan tim garis depan PAUD dari Bank Dunia dan DFAT Australia melakukan peningkatan kapasitas pendidik PAUD di daerah yang selaras dengan program nasional dengan konsep diklat berjenjang. Di bawah program Pilot ECED Frontline (Generasi Cerdas Desa) itu, tim ini berhasil melatih sekitar 15 ribu pendidik PAUD yang tersebar di 2.681 desa, 252 kecamat­an, 25 kabupaten, dan 11 provinsi.  

Kerja kolosal, tapi senyap ini dapat menjadi contoh kerja sama lintas kementerian, pusat-daerah, dan keterlibatan masyarakat. Pada 2018, program Pilot Diklat Berjenjang ini mendapatkan anugerah UNESCO Hamdan Prize untuk praktik dan kinerja yang luar biasa dalam meningkatkan efektivitas para guru.

Menurut riset Bank Dunia yang lain oleh Nozomi Nakajima dan timnya, anak-anak kita sudah lebih baik di kemampuan berhitung, sedangkan kemampuan bahasa atau keterampilan literasi masih sedikit tertinggal.  Studi ini menyimpulkan bahwa pengasuhan atau parenting berperan besar dalam menjembatani kesenjangan prestasi antargender.  

Riset Bank Dunia lain juga menunjukkan bahwa 92% kelompok bermain, yang dibuka selama pendanaan dari donor masih beroperasi setelah tiga tahun. Faktor yang mendukung keberlanjutan ialah keterlibatan orangtua dan kualitas layanan.  

Hikmah dari riset jangka menengah di atas ialah pemerintah harus bekerja sama dengan orangtua dan masyarakat untuk meningkatkan literasi sejak dini. Kelalaian kita dalam mendidik anak-anak di periode emas itu akan berdampak fatal di masa depan, khususnya saat bonus demografi sekarang.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More