Senin 21 Oktober 2019, 07:00 WIB

Dobrak Rutinitas

Nur Aivanni | Politik dan Hukum
Dobrak Rutinitas

ANTARA
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo

 

“PURA babbara’ sompekku. Pura tangkisi’ golikku. Layarku sudah terkembang. Kemudiku sudah terpasang. Kita bersama menuju Indonesia maju!’’

Pepatah Bugis itu disampaikan Joko Widodo di akhir pidato seusai dirinya dan Ma’ruf Amin dilantik sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 dalam Sidang Paripurna MPR di Gedung MPR/DPR Senayan, Jakarta, kemarin.

Pelantikan Jokowi-Amin ­ditandai dengan pengucapan sumpah yang dipimpin Ketua MPR Bambang Soesatyo didampingi sembilan Wakil Ketua MPR. Prosesi itu disaksikan anggota MPR, para tokoh bangsa, dan perwakilan negara-negara sahabat yang hadir langsung, juga rakyat Indonesia yang menyaksikan lewat layar kaca.

Bagi Jokowi, pelantikan kemarin merupakan awal masa jabatan kedua sebagai orang nomor satu di Indonesia. Jokowi pun menyatakan komitmennya untuk bekerja lebih keras dan siap mendobrak rutinitas untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar.

Mimpi Indonesia, kata Jokowi, ialah menjadi negara maju dengan pendapatan per ka­pita Rp320 juta per tahun atau Rp27 juta per bulan di 2045. Pada usia ke-100 tahun nanti, diyakini pula Indonesia akan masuk lima besar ekonomi dunia dengan angka kemiskin­an mendekati 0%.

“Kita harus menuju ke sana. Kita sudah hitung, ­sudah ­kalkulasi, target tersebut sangat masuk akal dan sangat memungkinkan untuk kita capai.
Namun, semua itu tidak datang otomatis, tidak datang dengan mudah. Harus disertai kerja keras, dan kita harus kerja cepat, harus disertai kerja-kerja bangsa kita yang produktif,” ujar Jokowi.

“Dalam dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, dan yang kompetitif, kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru. Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas yang monoton,” imbuhnya.

Jokowi menyodorkan lima arahan ­strategis dalam pembangunan nasional lima tahun ke depan. Kelimanya ialah pembangunan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, penyederhanaan regulasi, penyederhanaan birokrasi, dan transformasi ekonomi.

Eselonisasi

Jokowi bahkan akan melakukan ­eselonisasi. “Eselon I, eselon II, eselon III, eselon IV, apa tidak kebanyakan? Saya akan minta untuk disederhanakan menjadi dua level saja, diganti dengan jabatan fungsional yang menghargai keahlian, menghargai kompetensi.”

Tak lupa, Jokowi meminta anggota kabinet yang akan diumumkan hari ini untuk bekerja serius. Dia tak akan memberikan ampun kepada mereka yang bekerja seenaknya. “Saya pastikan, pasti akan saya copot.”

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh berharap Jokowi-Amin mampu memberikan hasil lebih baik ketimbang pemerintahan Jokowi periode pertama. Dia menyoroti pentingnya produk administrasi pemerintahan seperti regulasi.

“Harus bisa lebih baik output kinerjanya. Kalau sudah baik selama ini, harus ditingkatkan lebih baik lagi, itu intinya,” kata Surya.

Mantan cawapres Sandiaga Uno yang menghadiri pelantikan bersama mantan capres Prabowo Subianto sepakat ­bahwa untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang ­diapungkan Presiden mutlak kerja keras dari setiap elemen. “Kita harus optimistis, ini ajakan dengan target yang ­konkret, negara maju berpendapatan Rp27 juta per kapita per bulan,” tandasnya. (Tim/X-8)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More