Minggu 20 Oktober 2019, 19:47 WIB

Mayoritas Hotspot Muncul di Areal Lahan Gambut

Muhamad Fauzi | Nusantara
Mayoritas Hotspot Muncul di Areal Lahan Gambut

Istimewa/KLHK
Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatra dan Kalimnatan sebagian besar dilakukan perusahaan perkebunan.

 

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia seolah-olah telah menjadi agenda tahunan yang kerap terjadi di musim kemarau. Meskipun pemerintah telah berupaya melakukan pencegahan dan penindakan terhadap pelaku pembakaran, karhutla selalu hampir setiap tahun khususnya beberapa daerah di pulau Sumatra dan Kalimantan.

Berdasarkan analisis citra satelit landsat 8 OLI/TIRS tentang data sebaran hotspot, serta laporan hasil groundchek hotspot dan laporan dari Manggala Agni yang dipublikasikan situs Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hingga kini terdapat lahan seluas 328.722 hektare terbakar di Indonesia.

Mayoritas titik api yang muncul berada di areal lahan gambut. Gambut merupakan lapisan tanah yang terbentuk dari bahan-bahan organik seperti tumbuhan yang membusuk dan terdekomposisi dalam waktu yang cukup lama.

Budaya pembukaan lahan dengan cara membakar sebetulnya sudah ada sejak zaman nenek moyang zaman dahulu. Sekjen Dewan Adat Besar Krayan Hulu, Kalimantan Utara, Ghat Khaleb mengakui bahwa memang  masyarakat Dayak di pedalaman melakukan pembakaran lahan.

“Tapi dalam area dengan luasan yang terbatas. Hhanya sekedar mencari makan untuk berkebun, itu juga sangat terkendali,” kata Gat Khaleb.

Gat Khaleb juga mengatakan, “Meskipun warga Dayak membakar hutan, penduduk pedalaman sangat  memperhitungkan kelestarian hutan, lahan-lahan milik  masyarakat sekedar  untuk makan sehari-hari dan tidak untuk usaha besar”.

Gat menambahkan, “Hutan bagi warga pedalaman ibarat tanjung kehidupan, tanpa mengambil sebagian lahan hutan, mereka tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dan cara ini telah ada sejak leluhur kami ratusan tahun lalu”.

Seorang petani sawit bernama Ajew, 24, di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur pada Senin (4/10/2019) mengatakan bahwa masyarakat sekitar yang melakukan pembakaran lahan tetapi tidak pernah menyebabkan asap yang merugikan orang banyak.

“Mereka selalu membuat parit di tepian lahan yang dibakar untuk mencegah pembakaran melebar. Luasnya juga paling hanya satu hektaran,” ujar Ajew.

Selain itu, Ajew juga menjelaskan bahwa setiap membakar lahan selalu ada beberapa orang yang bersiaga di lokasi pembakaran untuk menghalau api membesar.

Meski demikian Ajew merasa tidak bisa membenarkan juga aktivitas pembakaran lahan seperti itu, karena masih berisiko menimbulkan kebakaran lahan yang lebih besar. “Akan tetapi dia mengungkapkan bahwa aktivitas itulah yang menghidupi dia, orang tua dan kerabatnya selama ini sebagai pendatang di Kalimantan,” kata Ajew.

Karhutla sangat erat kaitannya dengan perusahaan perkebunan. Meski tidak semua, tapi ada sebagian perusahaan perkebunan yang selama ini telah menyumbang kabut asap akibat pembersihan lahan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perusahaan harus membabat hutan untuk membangun sebuah perkebunan. Karena biayanya yang mahal, tidak sedikit pengusaha mengambil jalan pintas membuka ratusan hektar lahan dengan cara dibakar.

Hasilnya memang cepat dan signifikan, akan tetapi dampak yang ditimbulkan sangat mengerikan, mulai dari kerusakan ekosistem hingga kabut asap berkepanjangan.

Karhutla telah menjadi perhatian perusahaan perkebunan PT Multi Kusuma Cemerlang (MKC) di Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Kepala Bidang Konservasi PT MKC, Rohimanfir, mengatakan, “PT MKC berkomitmen untuk menjaga kelestarian dan mencegah kerusakan ekosistem alam yang diakibatkan oleh pembakaran lahan hingga penebangan liar.”

“ Salah satu bentuk kongkrit pencegahan kebakaran hutan dan lahan ini di antaranya adalah disediakannya kendaraan dan alat pemadam kebakaran lengkap yang dimiliki oleh PT MKC,” papar Rohimanfir.

Rohimanfir juga mengatakan bahwa tim pemadam kebakaran PT MKC Bersama masyarakat melakukan pemadaman intensif terhadap lahan yang terbakar di sekitar perusahaan yang disebabkan oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab.

 Pada 22 September lalu dikatakan bahwa mereka mengamankan satu orang pelaku pembakaran lahan berinisial D,35, yang diamankan ke Polsek Bengalon. Menurut Rohimanfir, pelaku sudah diangatkan beberapa kali sebelum akhirnya diamankan ke kantor polisi. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More