Minggu 20 Oktober 2019, 13:27 WIB

Delapan Desa Di Basel masih Ditemukan Stunting

Rendy Ferdiansyah | Nusantara
Delapan Desa Di Basel masih Ditemukan Stunting

Antara
Kabupaten Bangka Selatan masih aman dari stunting karena berada diangka 12,9%. Namun di sana masih ditemukan stunting di delapan desa.

 

SEBANYAK delapan desa di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung (Babel) masing ditemukan kasus stunting. Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana Bangka Selatan (Basel), Supriyadi mengatakan berdasarkan angka prevalansi pada  Februari, Basel masih aman dari stunting karena berada diangka 12,9%.

Kendati tergolong aman, Di Basel masih ada 8 desa yang mengalami kasus stunting yang cukup berbahaya.

"Delapan desa itu adalah Desa Tepus, Sidoharjo, Pongok, Payung, Serdang, Jelutung II, Gudang dan Sebagin," kata Supriyadi, Minggu (20/10).

Dari kedelapan desa tersebut, Desa Sidoharjo merupakan desa yang kasus stuntingnya paling berbahaya atau mencapai angka prevalensi 48,8%,  diikuti Desa Tepus yang mencapai angka prevalensi 43,8%. Ia menjelaskan, stunting merupakan sebuah kondisi tubuh anak-anak balita kekurangan gizi, Anak-anak tersebut mengalami kondisi tubuh pendek alias kerdil.

Selain mengalami kondisi tubuh pendek dan tidak sesuai, stunting juga menyebabkan terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme dalam tubuh.

"Ada lagi dampak lainnya seperti gangguan interaksi sosial, gangguan kognitif serta penyakit tidak menular yang dirasakan oleh balita yang alami stunting," tandasnya

Di sisi lain, ia menyayangkan masih ada desa-desa di Bangka Selatan yang nilai prevalensi stuntingnya mencapai 48,8%. Supriyadi menyebutkan, kemungkinan yang menjadi permasalahan di Desa Sidoharjo sebagai penyandang angka stunting tertinggi di Basel adalah karena pola asuh yang salah.

"Saya berspekulasi permasalahan ini terjadi karena pola asuh orang tua
yang tidak maksimal. Kalau disebabkan kekurangan pangan, faktanya  Desa Sidoharjo merupakan desa yang akses pangan cukup baik di Basel,"  ujarnya.

baca juga: Empat Pendaki Gunung Ranti Berhasil Dievakuasi

Pola asuh yang salah menurut Supriyadi disebabkan orangtua menitipkan anaknya karena harus bekerja di sawah. Akibatnya kebutuhan gizi anak kurang diperhatikan.

"Atau bisa saja karena sibuk di sawah sehingga anaknya dititipkan di nenek atau saudaranya," lanjutnya.

Jika permasalahan ini terus dibiarkan, kata dia, maka angka stunting di Basel pasti akan meningkat tajam sehingga perlunya perhatian khusus.(OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More