Minggu 20 Oktober 2019, 09:13 WIB

Waduk Riam Kanan Kalsel Kritis, Dua Unit PLTA Berhenti Operasi

Denny Susanto | Nusantara
Waduk Riam Kanan Kalsel Kritis, Dua Unit PLTA Berhenti Operasi

MI/Denny Susanto
Menyusutnya Waduk Riam Kanan di Kabupaten Banjar, Kalsel menyebabkan dua unit PLTA berhenti beroperasi

 

DEBIT air waduk Riam Kanan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan terus menurun dan kritis akibat kemarau panjang. PLN wilayah Kalsel-Kalteng terpaksa hanya  mengoperasikan satu dari tiga unit pembangkit PLTA Ir PM Noor untuk penghematan bahan baku air waduk Riam Kanan. Sejak Juli hujan belum turun di wilayah sekitar waduk, meski hujan mulai turun di sejumlah daerah di Kalsel. Hal ini menyebabkan debit air waduk terus menurun dan sampai taraf kritis.

"Debit air waduk Riam Kanan terus menurun setiap hari karena tidak ada penambahan debit air atau hujan sejak beberapa bulan terakhir," ungkap Manager PLTA Ir PM Noor, Arsyad, Minggu (20/10).

Saat ini debit air waduk Riam Kanan 54,45 meter berada dalam status kritis dengan standar batas normal ketinggian air waduk adalah 58-60 meter. Sementara level terendah ketinggian air waduk yang bisa untuk operasi pembangkit adalah 53-54 meter. Terus surutnya waduk Riam Kanan ini diperkirakan akan berlanjut. BMLG memprediksi musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober. Penurunan debit air waduk berpengaruh pada operasional pembangkit PLTA Ir PM Noor.

Dikatakan Arsyad, pihaknya terpaksa menghentikan operasional dua dari tiga pembangkit yang ada.

"Kita hanya mengoperasikan satu unit pembangkit. Itu pun dengan kondisi tiga jam operasi satu jam stop secara bergiliran dengan tujuan untuk menghemat air," ujarnya.

PLTA Ir PM Noor merupakan pembangkit penunjang pasokan energi listrik pada sistem kelistrikan Kalsel-Kalteng. Selain untuk keperluan operasional pembangkit, waduk Riam Kanan juga menjadi sumber air baku utama PDAM di tiga wilayah yakni Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru dan Kota Banjarmasin. Surutnya air waduk Riam Kanan juga kerap merugikan petani keramba karena asam air meningkat menyebabkan ikan keramba mati.

Sabran, petani keramba dari Desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio yang lokasinya di sekitar waduk mengatakan banyak petani harus memanen ikan sebelumnya waktunya. Penyebabnya adalah kurangnya pasokan air waduk dan dikhawatirkan bisa menyebabkan ikan mati.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Wahyudin Ujud mengatakan hingga kini lima kabupaten di Kalsel tercatat masih mengalami bencana kekeringan. Kondisi kekeringan tahun ini masuk kategori Kekeringan Ekstrim atau parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

baca juga: Dua Desa di Nagekeo Alami Kekeringan Terparah

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat ada puluhan kecamatan di lima kabupaten dari 13 kabupaten/kota di wilayah tersebut mengalami kekeringan. Meliputi Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Kotabaru, Balangan dan Tanah Laut. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More